Wednesday, April 29, 2009

Sejarah Asal Mula Condet

copy paste dari Sabda LeQom http://sabdaleqom.blogspot.com/2008/07/sejarah-condet.html?zx=8af58a9cd8a07cf

Sejarah Asal Mula Condet

Menurut Ridwan Saidi, daerah Condet merupakan tempat di mana negara Salaknegara berada. Salakanegara adalah kerajaan pertama yang berdiri di tanah Jawa pada tahun 130 Masehi. Bahkan jika ditengok kebelakang, berdasarkan temuan arkeologis, daerah Condet telah dihuni manusia sejak jaman Neolitikhum (3000-3500 tahun lalu). Ridwan kemudian mengaitkan dengan nama-nama bermakna sejarah di Condet seperti Batu Ampar yang berarti batu tempat meletakan sesaji dan Bale Kambang yang merupakan pesanggrahan para raja jaman dulu. Ada juga beberapa pendapat mengenai asal mula nama buah salak, konon nama itu juga berasal dari kata Salaknegara.[1]

Lebih lanjut Ridwan Saidi mengatakan bahwa Jakarta ini sudah dihuni dan didatangi oleh masyarakat jauh sebelum kerajaan Tarumanegara berdiri yaitu pada abad ke-5 Masehi.[2]

Untuk daerah Condet sendiri, Ridwan Saidi memiliki kesimpulan bahwa daerah ini berasal dari kata Ci Ondet. Ci berarti air atau kali seperti nama kali lain, Ciliwung, Citarum, Cisadane dan sebagainya. Sementara Ondet atau Odeh adalah nama pohon sejenis buni. Pada masa dulu di sepanjang aliran kali Ciliwung yang lewat kesana banyak ditemukan pohon Ondet, sehingga disebut Condet.[3]

Namun walau pun demikian, ada beberapa catatan tertulis penting yang berkaitan dengan daerah yang dahulu dikenal sebagai penghasil salak ini. Data tertulis pertama yang menyinggung Condet adalah catatan perjalanan Abraham van Riebeek, yang pada waktu itu menjabat sebagai direktur jenderal VOC (sebelum menjadi gubernur jenderal). Untuk menempuh ke kantor pusat kegiatan VOC, pada tanggal 24 September 1709, Abraham van Riebeek beserta rombongannya harus berjalan kaki melewati anak sungai Ci Ondet. Jarak antara tempat tinggal Abraham van Riebeek-kantor pusat VOC mencapai 15 km.[4]

Keterangan kedua terdapat dalam surat wasiat Pangeran Purbaya — salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten. Sebelum dibuang oleh Belanda pada April 1716, pangeran menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet kepada anak-anak dan istrinya yang ditinggalkan.[5]

Keterangan ketiga, adalah surat keterangan yang dikeluarkan oleh pimpinan Kompeni di Batavia pada tanggal 8 Juni 1753. surat keputusan ini berisikan maklumat tentang penjualan tanah di daerah Condet seluas 816 morgen (52.530 ha) yang pada waktu itu dibeli dengan harga 800 ringgit kepada Frederik Willem Freijer. Daerah Condet sendiri berada pada tanah yang dijual tersebut, yang kemudian dimiliki oleh Frederik Willem Freijer seorang pengusaha swasta Belanda. Kawasan ini pun pada akhirnya dikenal sebagai bagian dari tanah partikulir Tandjoeng Oost (Tanjung Timur), atau Groeneveld.[6]

Walau pun demikian, tidak ada data pasti sejak kapan atau bagaimana ceritanya Condet menjadi pemukiman orang Betawi. Namun daerah ini menyimpan sejarah menarik, salah satunya kisah Haji Entong Gendut. Haji Entong Gendut adalah Alim Ulama sekaligus pendekar yang disegani di Condet. Menurut Ran Ramelan, Haji Entong Gendut marah atas kesewenang-wenangan Kompeni dalam memungut pajak atau blasting kepada rakyat Condet. [7]

Akhirnya, pada 5 April 1916 Haji Entong Gendut memimpin pemuda-pemuda Condet menyerbu sebuah Gedung bernama Villa Nova atau Groeneveld milik tuan tanah Belanda. Setelah berhasil memberi pelajaran kepada Kompeni, dimulailah babak heroik perlawanan masyarakat Condet pimpinan Haji Entong Gendut versus Kompeni. Menurut cerita, Haji Entong Gendut akhirnya tewas ditembak Kompeni lalu mayatnya dibuang ke laut. [8]

Gedung Villa Nova atau Groeneveld yang diserang oleh Haji Entong Gendut beserta pemuda Condet itu adalah gedung satu-satunya dan terbesar di daerah Condet ketika itu. Keberadaan gedung tersebut membawa ciri khas bagi daerah tersebut sehingga banyak masyarakat pada waktu itu memberi nama daerah tersebut dengan julukan sebagai Kampung Gedong. Dan penamaan ini masih bertahan hingga sekarang, terbukti dengan adanya kampung Gedong di wilayah Condet.Mengenai sejarah gedung Villa Nova atau Groeneveld yang menjadi asal mula terbentukya kampung Gedong memiliki kisahnya tersendiri. Gedung ini dibangun oleh Vincent Riemsdijk, anggota Dewan Hindia, sebagai perkebunan dan sekaligus peristirahatan. Setelah kematiannya, putranya Daniel van Riemsdijk, seorang petani andal, benar-benar mengurus perkebunan Tanjung Timur dan mengelolanya dengan baik. Pada waktu itu, 6.000 ekor sapi digembalakan di perkebunan ini, tempat yang sekarang berdiri gedung-gedung megah dan jalan raya dari Tanjung Timur ke Terminal Kampung Rambutan.[9]

Di gedung ini pada 1749 pernah berlangsung pertemuan antara Gubernur Jenderal Von Imhoff dan Ratu Syarifah Fatimah, wali sultan Banten. Syarifah, wanita terdidik dan cerdas, pada 1720 menjadi istri Pangeran Mahkota Banten, Zainul Arifin. Ia sangat berpengaruh terhadap suaminya ketika menjadi sultan Banten (1733). Tapi, Syarifah sendiri meninggal dengan merana karena dibuang ke Pulau Edam di Kepulauan Seribu, akibat pemberontakan Kyai Tapa (1750). Ia ditangkap akibat ambisinya untuk mengangkat Syarif Abdullah, yang menikah dengan keponakannya, untuk dijadikan pangeran mahkota Kesultanan Banten.Gedung yang juga dikenal dengan Villa Nova itu telah beberapa kali berganti pemilik. Menurut Ran Ramelan tiap penggantian tuan tanah ini, diadakan peraturan baru yang memberatkan rakyat Condet. Terhadap tiap pemuda Condet yang telah menginjak dewasa dikeluarkan kompenian atau pajak kepala sebesar 25 sen (nilainya kira-kira 10 liter beras). Karena banyak petani yang tidak sanggup membayar blasting (pajak) yang sangat memberatkan itu, tuan tanah sering membawa petani yang tak sanggup membayar ke landraad (pengadilan). Dan tuan tanah di Condet sering mengeksploitasi masyarakat sehingga akibatnya banyak petani yang bangkrut, rumahnya dirusak, atau tak jarang yang dibakar. Penduduk yang belum membayar blasting hasil sawah dan kebunnya tidak boleh dipanen.[10]

Tuan tanah pertama dari kawasan itu adalah Pieter van de Velde asal Amersfoort, yang pada pertengahan abad ke-18 berhasil memupuk kekayaan berkat berbagai kedudukannya yang selalu menguntungkan. Setelah peristiwa pemberontakan Cina pada tahun 1740, dia berhasil mengusai tanah – tanah Kapten Ni Hu-Kong, yang terletak di selatan Meester Cornelis yang sekarang dikenal sebagai Jatinegara sebelah timur sungai Ciliwung. Kemudian di tambah dengan tanah – tanah lainnya yang di belinya sekitar tahun 1750, maka terbentuklah Tanah Partikelir Tanjoeng Oost. Di situ ia membangun gedung tersebut selesai dibangun.Pemilik kedua adalah Adrian Jubels. Setelah ia meninggal pada tahun 1763, Tanah tanjung Oost dibeli oleh Jacobus Johannes Craan, yang terkenal dengan seleranya yang tinggi. Pemilik baru itu mendandani gedung peristirahatan dengan dekorasi berlanggam Lodewijk XV, ditambah dengan hiasan – hiasan yang bersuasana Cina. Sampai terbakar pada tahun 1985 sebagian dari ukiran – ukiran penghias gedung itu masih dapat disaksikan.Setelah Craan meninggal, Tanjoeng Oost dibeli oleh menantunya Willem Vincent Helvetius van Riemsdjik, putra Gubernur Jendral Jeremies van Riemsdjik (1775 – 1777). Sampai pecahnya Perang Dunia Kedua, gedung Groeneveld dikuasai turun- temurun oleh para ahli warisnya, keturunan Vincent Helvetius van Riemsdjik. Willem Vincent Helvetius sendiri sejak muda sudah menduduki jabatan yang menguntungkan, antara lain pada usia 17 tahun sudah menjabat sebagai administrator Pulau Onrust, jabatan yang menjadi incaran banyak orang, karena konon sangat “basah” banyak memberi kesempatan untuk memupuk kekayaan. Kedudukan ayahnya sebagai gubernur Jenderal dimanfaatkan dengan sangat baik, sehingga kekayaannya makin berkembang. Pada tahun sembilanpuluhan abad ke-18, tanah – tanah miliknya tersebar antara lain di Tanahabang, Cibinong, Cimanggis, Ciampea, Cibungbulan, Sadeng, dan dengan sendirinya Tandjoeng Oost atau Tanjung Timur.Tandjoeng Oost atau Tanjung Timur mengalami perkembangan yang sangat pesat pada waktu dikuasai oleh Daniel Cornelius Helvetius, yang berusaha menggalakkan pertanian dan peternakan. Setelah ia meninggal pada tahun 1860, Groeneveld menjadi milik putrinya yang bernama, Dina Cornelia, yang menikah dengan Tjalling Ament, asal Kota Dokkum, Belanda Utara. Ament melanjutkan usaha mertuanya, meningkatkan usaha pertanian dan peternakan. Pada pertengahan abad ke-19, di kawasan TanjungTimur dipelihara lebih dari 6000 ekor sapi. Produksi susunya sangat terkenal di Batavia. Sampai tahun 1942 Groeneveld turun – temurun dihuni keturunan Van Riemsdjik, dan kawasan itu sampai sekarang disebut Kampung Gedong.[11]

Sampai sekarang suku Betawi merupakan salah satu suku yang berada di Indonesia, dan Betawi Condet hanyalah bagian terkecil yang tersisa dari keberadaan suku Betawi tersebut. Secara umum suku Betawi merupakan suku-bangsa yang terbentuk dari proses asimilasi antara penduduk pribumi dengan berbagai unsur dari luar yang bercampur dalam waktu yang lama. Lance Castle menggambarkan kondisi ini dengan istilah melting pot.Menurut Melalatoa, keberadaan suku Betawi berikut dengan Betawi Condetnya dapat dilihat dari pengakuannya dan budaya-budaya tertentu, misalnya bahasa, dialek, kesenian, pakaian, makanan, sistem keyakinan dan lain-lain. Selain itu adanya pandangan-pandangan yang dapat melahirkan identitas tertentu sebagai suatu kelompok yang disebut sebagai orang Betawi-Condet.[12]

Dalam bidang kesenian, orang Betawi-Condet memiliki bentuk-bentuk kesenian yang khas, yang di dalamnya terkandung unsur-unsur dari berbagai kesenian lain dengan melalui proses akulturasi. Misalnya, seni lenong yang lagu-lagunya terdiri dari campuran lagu Cina dengan Betawi. Demikian juga dalam berbahasa. Bahasa yang digunakan oleh orang Betawi-Condet merupakan bahasa yang sudah bercamputr dengan bahasa lainnya, baik itu secara dialek atau pun kosa kata. Bahasa-bahasa yang banyak berpengaruh terhadap bahasa Betawi-Condet diantaranya adalah bahasa Sunda, Jawa, Melayu, Cina.Yang lebih penting dari semua itu adalah pandangan hidup yang digunakan oleh orang Betawi-Condet. Masyarakat Betawi-Condet memiliki sistem budaya denga sejumlah nilai dan norma budaya yang menjadi acuan dalam berbagai tindakannya, yaitu:1. Sikap toleransi yang diwujudkan dengan sikap nyata berupa keramahtamahan.2. Sederhana, tidak berlebihan dan dengan sabar menerima keadaan serta kemudahan yang diberikan lingkungannya.3. Memiliki solidaritas yang tinggi terhadap lingkungan sosialnya4. Mengamalkan asas mufakat untuk berbagai proses pengambilan keputusan dalam lingkungan kehidupan kerabat dan lingkungan sosial yang lebih luas.[13]

A. Condet Sebagai Cagar Budaya
Lantas sejak kapan Condet ditetapkan sebagai daerah cagar budaya Betawi? Penetapan Condet sebagai salah satu cagar budaya Betawi pertama kali dilakukan oleh Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1974, dengan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur No D. IV-1511/e/3/74 tanggal 30 April 1974 tentang Penetapan Condet sebagai Pengembangan Kawasan Budaya Betawi. Kemudian disusul SK Gubernur No D.I-7903/a/30/75 tanggal 18 Desember 1975, gubernur kembali menetapkan Condet sebagai Daerah Buah-buahan. Keputusan itu berisi penetapan kawasan condet seluas 18.228 hektar sebagai Cagar Budaya Betawi.Alasan dijadikanya Condet sebagai cagar budaya Betawi di Jakarta berawal dari adanya keinginan Pemerintah DKI Jakarta untuk mempertahankan salah satu kantong pertanian di Jakarta Timur.[14]

Untuk menguatkan komitmen pihak pemerintah juga mengeluarkan beberapa kebijakan antara lain :1. .Penetapan wilayah Condet yang dikembangkan secara terbatas, mengingat sebagai daerah penghasil buah-buahan.2. Penetapan mempertahankan wilayah Condet sebagai daerah pertanian buah-buahan.3. Pengaturan penebangan pohon di wilayah Condet harus seminimal mungkin, dan harus minta izin sebelumnya.4. Pelarangan untuk melakukan mutasi tanah, merubah tata guna tanah termasuk memusnahkan tanaman khas Condet yaitu salak, duku dan melinjo.5. Pelarangan untuk mendirikan bangunan yang melebihi ketentuan koefisien dasar bangunan (RDB) sebesar 20 %.6. Penetapan bahwa tanaman khas Condet seperti duren Sitokong dan duku serta Salak sebagai barang langka yang harus di jaga dari kepunahan.Selain itu penetapan Condet sebagai salah satu kawasan cagar budaya Betawi di Jakarta juga berlandaskan pada adanya peraturan dari Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup yang menyebutkan dalam salah satu pasalnya bahwa warisan budaya merupakan komponen lingkungan yang ingin dipertahankan, dijaga dan dilestarikan keberadaannya di samping warisan alam. Yang lebih menguatkan dari semua itu adalah adanya rekomendasi dari badan dunia yang banyak melakukan rekonstruksi pada warisan-warisan budaya dunia yaitu Unesco pada tahun 1975.

Dalam rekomendasinya, Unesco meminta kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah guna melindungi kota atau desa yang memiliki nilai-nilai sejarah tinggi termasuk lingkungannya untuk diintegrasikan dalam kehidupan masyarakat sekarang.Cagar budaya Condet yang dilindungi terdiri dari tiga kelurahan yaitu kelurahan Batu Ampar seluas 255, 025 hektar yang terdiri dari 4 RW dan 39 RT, kelurahan Balekambang seluas 161, 80 hektar yang terdiri dari 3 RW dan 20 RT, dan kelurahan Kampung Tengah seluas 214, 8 hektar yang terdiri dari 5 RW dan 29 RT. Batas-batas wilayah cagar Condet itu sendiri, di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Cililitan, di sebelah timur sebagian besar berbatasan dengan kelurahan Rambutan, sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Gedong, dan sebelah barat dipisahkan dengan kelurahan Pasar Minggu oleh kali Ciliwung. Tiga kelurahan dalam kawasan Cagar Budaya Betawi-Condet tersebut sebagian besar didominasi oleh adanya lahan atau perkebunan buah-buahan dan termasuk daerah jalur hijau.[15]

Dalam sejarah Betawi, Condet memiliki sejarah yang sangat istimewa. Menurut sejarah, sejak seribu tahun yang lalu Condet sudah banyak dihuni oleh masyarakat yang datang dari berbagai wilayah. Sejarah juga mencatat bahwa wilayah ini pernah menjadi markas bagi prajurit Mataram yang dikirim Sultan Agung untuk menggempur Batavia pada tahun 1628-1829. Ketika serangan tersebut gagal, ke sana pula para prajurit itu bersembunyi dan kemudian beranak pinak. Kampung Balekambang pada waktu itu juga dinyatakan sebagai pemukiman mereka.[16]

Pada tahun 1749 pendatang dari Makasar datang memasuki wilayah ini sebagai buruh perkebunan gula milik tuan tanah Belanda. Mereka bermukim di wilayah kampung Makasar yang kemudian kita kenal sebagai Kelurahan Batuampar. Kemudian satu wilayah yang disebut Kelurahan Karang Tengah juga merupakan pengembangan dari pemukiman pendatang dari Makasar tersebut.[17]

Kawasan Condet juga pernah berada di bawah kekuasaan Keluarga Ament, tuan tanah bangsa Belanda yang pertama kali mengembangkan kebun buah-buahan sampai dengan tahun 1949, yang kemudian menyerahkan kepada para petani di wilayah ini. Sejak saat itu, kebun buah-buahan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Condet dan hingga ke generasi-generasi berikutnya, mereka juga kemudian dikenal sebagai petani buah-buahan.Berdasar pada kenyataan sejarah ini, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin terdorong untuk kembali melestarikan wilayah Condet. Dengan harapan Condet tidak saja menjadi lokasi pelestarian suku Betawi berikut dengan seni tradisinya, tetapi juga bisa menjadi daerah sentra buah-buahan. Tekad Ali Sadikin untuk melestarikan budaya Betawi diwujudkan dengan berbagai program-program nyata yan diharapkan bisa mendukung.

Berbagai sosialisasi mengenai pentingnya melestarikan tradisi budaya, menjaga kawasan hijau di Jakarta, sampai pada adanya perlindungan pada sejumlah bangunan asli Betawi pun dilakukan.Pada masa kepemimpinan Ali Sadikin ini, kawasan Condet termasuk daerah maju, ada anggaran untuk melestarikan budaya Betawi di Condet. Setiap rumah Betawi diberi dana rehabilitasi dan pemeliharaan, terutama lantai dasar sebesar Rp 30.000 per bulan. Namun, itu hanya berlangsung singkat.Sepuluh tahun kemudian, seiring dengan adanya pergantian pemerintahan Ali Sadikin yang digantikan oleh Gubernur Soeprapto muncul lagi Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 323 Tahun 1985 tentang Penyusunan Konsep Pelaksanaan Daerah Condet sebagai Daerah Buah-buahan. Setelah itu, terbit lagi Instruksi Gubernur No 19/1986 tentang Status Quo Pengembangan Kawasan Condet.

Namun, pengembangan itu berjalan lamban. Bahkan, entitas budaya Betawi mulai memudar. Pada periode ini wacana tentang revitalisasi cagar budaya Betawi di Condet pun tidak lebih hanya sekedar slogan pemerintah provinsi semata. Ini terbukti dengan semakin tidak adanya kejelasan kontiunitas kebijakan sebelumnya yang memberikan dana rehabilitasi dan pemeliharaan kepada warga Condet. Hal ini diperparah lagi dengan tidak adanya kebijakan pemerintah provinsi DKI Jakarta mengenai pentingnya mempertahankan situs cagar budaya.[18]

Sekitar tahun 2001, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memperhatikan perkembangan budaya Betawi, sebagai budaya asli kota Jakarta. Namun sayang perhatian itu tidak ditujukan untuk merevitalisasi budaya Betawi di kawasan Condet, melainkan menetapkan Kelurahan Srengsengsawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan sebagai Perkampungan Budaya Betawi. Kawasan seluas 289 hektar itu ditetapkan melalui Perda No 3/2005 tentang penetapan perkampungan budaya Betawi. Hingga saat ini perkampungan budaya Betawi itu masih menjadi perhatian Pemprov DKI Jakarta.[19]

Perlindungan Cagar Budaya Betawi-Condet hanya memiliki kekuatan di tingkat perda, tetapi pemerintah provinsi sama sekali tidak memiliki kekuatan hukum untuk melarang warga menjual tanah milik mereka. Sehingga seiring jaman, pertumbuhan kawasan Condet sulit dikendalikan. Rumah-rumah modern, kios, bengkel,warung, restoran, toko, hingga mini market tumbuh berjamur. Kebun dan kawasan hijau berkurang drastis. Akibatnya, tidak terdengar lagi Condet sebagai penghasil duku dan salak.Kawasan Condet hampir tidak berbeda dengan pemukiman-pemukiman lain. Padat dan hiruk pikuk. Penduduknya pun lebih banyak pendatang ketimbang orang Betawi asli. Sebetulnya kritisnya kawasan ini sudah dideteksi pemprov DKI sejak bertahun-tahun lalu. Sesuai Peraturan Daerah No. 7 tahun 1991,setiap rumah yang dibangun dikawasan khusus seperti Condet, maka bentuk bangunannya harus sesuai dengan ciri khas kawasan. Berhubung sudah terlanjur dan tidak mungkin membuat Cagar Budaya di lokasi yang sama,akhirnya Cagar Budaya Betawi dipindah ke Setu Babakan di Srengseng Sawah, Jagakarsa.Seiring dengan waktu, makin banyak pendatang masuk ke Condet, termasuk warga keturunan Arab yang hijrah besar-besaran dari daerah Pekojan, Tambora, Jakarta Barat.

Alwi Shahab, penulis dan pemerhati sejarah yang juga keturunan Arab, pernah mengatakan, pada tahun 1950-an sekitar 95 persen penduduk Pekojan masih keturunan Arab. Mereka lalu berpindah tempat ke Condet, juga Jatinegara dan Tanah Abang. Kini, di Condet bahkan menjamur tempat penampungan TKI yang dikelola warga keturunan Arab.Jumlah penduduk Kelurahan Batu Ampar saat ini mencapai 33.582 orang, Kampung Tengah lebih dari 25.000 jiwa, sedangkan penduduk Bale Kambang berjumlah 19.653 jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk Bale Kambang pada tahun 1976 yang hanya 4.564 jiwa , Batu Ampar 9.262 jiwa, dan Kampung Tengah 8.162 jiwa.Pada awalnya banyak masyarakat yang optimistis Condet bakal menjadi trade mark Jakarta. Berbatasan dengan bekas terminal bus Cililitan dan Pasar Minggu, Condet salah satu kawasan yang 90% penduduknya asli Betawi. Condet kaya akan kebun berpohon rindang. Udaranya bersih, penuh kicauan burung kakak tua jambul putih, bayan, nuri, dan banyak lagi. Monyet melompat dari pohon ke pohon. Rata-rata orang Condet bertanam buah-buahan, terutama duku dan salak.Pohon duku di Condet banyak yang sudah berumur puluhan tahun. Saat musim duku tiba, hampir saban malam kaum lelakinya meronda di atas pohon, yang punya dahan liat dan kuat. Mereka berjaga dari codot dan kalong, yang konon hanya takut pada pohon yang "dihinggapi manusia".

Condet juga penghasil pisang (terkenal besar dan manis), durian, dan melinjo yang diolah jadi emping. Kabarnya, emping Condet sangat gurih. Kalau di tempat lain, sebelum digecek, melinjo direbus lebih dahulu. Tetapi do di Condet, melinjo tidak direbus, melainkan dinyanya alias digoreng.Kekhasan Condet juga terlihat dari bahasa Betawi yang mereka gunakan, adat istiadat yang banyak mengambil nilai-nilai Islam, serta bentuk rumah mereka. Rumah asli Condet berlantai tanah, berdinding kayu. Jendelanya dinamai jendela bujang (bertirai batang bambu). Disebut jendela bujang, karena kerap dimanfaatkan bujang untuk mengintip calon istrinya yang dipingit di balik beranda. Serambi muka terbuka, hanya dibatasi pagar kayu setinggi pinggang serta ornamen khas di lisplang. Di belakang beranda ada pangkeng atau kamar tidur.Di antara tiga kelurahan tadi, Balekambang yang paling kuat memegang tradisi. Mereka sangat fanatik dengan sekolah agama. Untuk mendapat ilmu yang lebih tinggi, tak jarang para pemudanya bertualang ke Suriah atau Mesir. Mereka lebih fasih memainkan gambus dan qasidah. Lenong dan gambang keromong masih dianggap sebagai punye orang luar. Leluhur Balekambang bahkan beranggapan, daerah mereka "terlarang" buat orang asing. Pendatang yang hendak berniaga, harus siap-siap bangkrut.

B. Cagar Budaya Tinggal Cerita

Penetapan Condet sebagai salah satu cagar budaya Betawi di Jakarta oleh Pemerintah Provinsi DKI, ternyata pada akhirnya memberikan implikasi yang dirasa kurang menguntungkan bagi masyarakat Condet sendiri. Warga Condet di Kelurahan Batu Ampar di Kecamatan Kramat Jati meminta status cagar buah dan budaya ditinjau ulang karena dianggap menghalangi pembangunan. Padahal, pertumbuhan penduduk dan permukiman sudah pesat. Masalah ini memang dilematis, di satu sisi ada peraturan yang harus ditaati, tapi di sisi lain ada kebutuhan masyarakat yang mendesak.[20]

Berdasarkan SK Gubernur No D.IV-1V-115/e/3/1974, kawasan ini ditetapkan sebagai wilayah cagar buah-buahan dan budaya Condet. Wilayah cagar ini mencakup tiga kelurahan di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Yakni Kelurahan Batu Ampar, Bale Kambang, dan Kampung Dukuh. SK yang dikeluarkan oleh Gubernur Ali Sadikin itu menetapkan pembangunan Condet seluas 18.000 ha harus dibatasi. Misalnya, dengan menetapkan aturan koefisien dasar bangunan (KDB) hanya 20 persen dari luas tanah. Artinya, lahan yang terbangun maksimal hanya 20 persen. Namun, peraturan itu tidak bisa diterapkan lagi di Condet, khususnya Batu Ampar. Sebab, permukiman berkembang pesat dengan pertumbuhan penduduk tinggi karena derasnya arus pendatang.Adanya kenyataan desakan dari warga masyarakat Condet agar pemerintah provinsi DKI Jakarta mencabut SK Gubernur yang menetapkan Condet sebagai daerah cagar budaya Betawi sungguh merupakan ironis. Masyarakat menilai bahwa aturan-aturan itu ternyata merampas kekhasan Condet itu sendiri.[21]

Salak dan duku yang sejak dulu menjadi hasil alam Condet, tak lagi tersaji di kios-kios buah. Jumlah petaninya tak lagi signifikan, seiring makin sempitnya lahan. Monyet dan berbagai burung langka pun ikut lenyap. Eksploitasi besar-besaran terhadap binatang-binatang itu, ditambah semakin berkurangnya pohon tempat mereka bersarang. Selain itu, daerah Condet juga kehilangan daerah resapan airnya. Kebijakan koefisien dasar bangunan (KDB) 80% dianggap sebagai angin lalu.

Melihat Condet kini, tak beda melihat kawasan lain di Jakarta. Penuh bangunan beton nan bergaya, mulai model Spanyol hingga Mediterania.Adalah kesulitan ekonomi yang membikin tak sedikit warga Condet menjual tanah miliknya. Dan, hal ini bukannya tanpa konsekuensi. Kian sempitnya lahan sekaligus membunuh tradisi yang telah mengakar di masyarakat Condet, yakni pemakaman anggota keluarga di kebun milik keluarga. Modernisasi telah membuat peta ekonomi Condet mengalami banyak perubahan, masyarakat Condet yang puluhan tahun dikenal sebagai petani duku dan salak, sedikit yang berpendidikan tinggi harus menyesuaikan dengan perkembangan ibukota yang semakin pesat kemajuannya.Warga Condet jaman dulu tidak cukup familiar dengan kehidupan metropolis. Sementara tak cukup tersedia lahan untuk bertahan sebagai masyarakat agraris. Jalan pintas itu pun datang. Di tengah himpitan ekonomi, warga asli Condet memilih melego tanah warisan. Hengkanglah mereka menyebar di Bekasi hingga Tangerang. Hengkangnya para warga Betawi Condet sekaligus membawa pergi kekayaan kuliner khas Betawi seperti pepes ikan lele, pepes ikan pepe, ikan gabus segar, atau goreng jengkol dengan sambel terasi. [22]

Masyarakat Condet tidak peduli dengan adanya peraturan dari pemerintah provinsi DKI Jakarta yang melarang mereka untuk menjual tanah-tanahnya kepada para pendatang. Desakan kebutuhan ekonomi dan kurannya pendidikan membuat mereka harus tersingkir ke wilayah-wilayah seperti Bekasi, Bogor, Depok dan sebagian ke wilayah Karawang.Oleh sebab itu Pemerintah provinsi DKI Jakarta mengevaluasi penetapan Condet, sebagai kawasan cagar budaya. Keputusan Pemerintah provinsi DKI Jakarta ini pun mendapat dukungan penuh dari warga Condet dan DPRD DKI Jakarta, dengan alasan bahwa kawasan Condet sudah mengalami kegagalan sebagai kawasan cagar budaya.Sementara SK Gubernur DKI yang tetap berlaku itu membelenggu hakwarga atas kepemilikan tanah. Soalnya, warga tidak bisa secaraoptimal memanfaatkan tanah milik mereka karena berbenturan denganaturan-aturan yang berkaitan dengan penetapan kawasan itu sebagaikawasan cagar budaya.Gagal menjadikan Condet sebagai cagar budaya, kini datang usulan baru. Pemprov DKI Jakarta diminta menjadikan Condet sebagai cagar sejarah Betawi. Menjadikan Condet sebagai cagar sejarah, menurut Ridwan Saidi, punya dasar kuat. Hal ini berdasar pada adanya temuan arkeologis pada situs Condet mengindidikasi hunian purba, sedikitnya pada periode 3000 tahun SM.

Toponim di Condet (Ci ondet) seperti Batualam, Batu Ampar, Bale Kambang, Pangeran, Dermaga, mencerminkan kehidupan masyarakat dan kebudayaan masa lampau. Benda-benda itu banyak terdapat di tepian sungai Ciliwung, di daerah Condet dan Kalibata Pejaten, Jakarta Selatan. Benda-benda ini diduga berasal kira-kira 1000 - 1500 SM.Untuk lebih memperkuat usulannya kepada Pemprov DKI Jakarta, Ridwan Saidi mencontohkan batu ampar yang kini menjadi nama jalan dan kelurahan di Condet. Batu ampar yang di Tangerang disebut batu ceper adalah batu yang biasanya berukuran minimal 4 x 6 meter. Di atas batu ini sesajen diletakkan. Sangat mungkin batu ampar di Condet masih ada di suatu tempat di kebun penduduk. Bale Kambang, nama kelurahan di Condet, merupakan pesanggrahan raja-raja. Dapat dipastikan sisa bangunannya sudah musnah, tetapi lokasinya masih dapat diperkirakan. Sedangkan batu alam, juga nama jalan di Condet, dalam tradisi kekuasaan purba, adalah tempat melantik raja baru.

Di samping merupakan permukiman tertua di Jawa, Condet yang penduduknya sangat taat menjalankan syariat agama, pernah dikenal sangat heroik melawan penjajah. Pada 1916, rakyat Condet di bawah pimpinan Haji Tong Gendut mengangkat senjata melawan tuan tanah Belanda yang menguasai Cibeureum, Kranggan, dan Cimanggis, di Kabupaten Bogor. Tempat tinggal tuan tanah itu di depan Jalan Raya Condet sekarang ini, yakni di Kampung Gedong. Rumah tuan tanah ini disebut kongsi, yang kini dipakai untuk Kesatrian Polisi Tanjung Timur. Tong Gendut mengumpulkan para pemuda berjihad fi sabilillah melawan tuan tanah yang selalu memeras penduduk.Tetapi pemberontakan ini dapat digagalkan. Pemberontakan kedua terjadi 1923, tidak menggunakan kekerasan senjata, melainkan dengan melakukan penebangan pohon-pohon besar. Pemberontakan ini berhasil membuat para mandor tuan tanah mundur, karena tidak berani menghadapi massa rakyat.Sejak saat itu, rakyat Condet makin berani melawan Belanda, termasuk menunggak pajak atau blasting. Ini berlangsung hingga tahun 1934, ketika rakyat Condet mengadukan kepada pengadilan mengenai pemerasan yang dilakukan tuan tanah. Rakyat meminta bantuan hukum kepada tokoh-tokoh perjuangan: Mr Sartono, Mr Moh Yamin, Mr Syarifuddin, dan lain-lain. Rakyat Condet akhirnya menang perkara. Tetapi keputusan baru datang setelah pemerintah Federal. Di masa federal ini, Belanda mengambil hati rakyat Condet, dengan menghapuskan tuan tanah.***

Perubahan Sosial dalam Masyarakat Betawi Condet

Perkembangan kota pada umumnya menyebabkan perubahan peruntukan lahan pertanian. Hal ini terjadi sebagai akibat meningkatnya tuntutan kebutuhan fasilitas perumahan, pesatnya pertumbuhan penduduk terutama yang disebabkan oleh urbanisasi, adanya kepentingan pembangunan fungsional lainnya, serta kesempatan pemanfaatan lahan yang rasional. Demikian pula keadaannya dengan kawasan Condet yang terdapat di Jakarta Timur, tidak luput dari pengaruh perkembangan tersebut.Masyarakat Betawi Condet merupakan suatu kesatuan dalam sistem hubungan sosial yang sangat erat serta memiliki mobilitas yang cukup tinggi. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya dalam masyarakat Condet terjadi pengaruh timbal balik yang cukup signifikan dengan lingkungan hidup serta kehidupan sosial, ekonomi dan budayanya.

Dalam dua dasawarsa terakhir ini kawasan Condet telah mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang cukup pesat sebagai dampak langsung dari proses pembangunan yang berlangsung sejak tahun 1970-an.Pada awalnya banyak masyarakat Condet yang menggantungkan hidupnya dari hasil perkebunan. Tanah yang luas dan subur yang ditumbuhi oleh beraneka macam pepohonan berbuah memberikan hasil panen yang melimpah. Buah-buahan seperti duku, salak,mangga, nangka dan lain-lain adalah pemandangan yang tidak langka di daerah Condet ini.Selain menggantungkan kehidupan di sektor hasil perkebunan, masyarakat Condet juga banyak yang terlibat dalam produksi emping. Terdapat sejumlah home industry. Begitu bergairahnya industri ini berkembang hingga kebutuhan melinjo tidak tercukupi. Sebagian harus didatangkan dari Banten. Emping Condet terkenal gurih. Lebih gurih dari emping keluaran daerah lainnya. Karena, emping melinjo daerah lain sebelum digecek terlebih dulu melinjonya direbut. Sedangkan di Condet orang tidak merebusnya, melainkan digoreng dengan pasir sebelum digecek, sehingga rasanya lebih gurih. Lagi pula emping Condet lebih tipis dari emping keluaran tempat lain. Biasanya warga Condet membikin emping lebar-lebar, digoreng dilipat dua.Sampai saat ini di Jl Condet Raya masih dapat kita jumpai beberapa pedagang emping. Sedangkan salak dan duku Condet sudah sulit ditemui.

Di samping emping, ada satu jenis makanan yang boleh dikata asing ditempat lain dan hanya terdapat di Condet, yakni goreng jengkol yang sangat digemari orang. Condet, yang sampai awal 1990-an masih berudara nyaman, juga dikenal masyarakatnya pandai dalam membuat dan mengelola berbagai jenis kue. Pada hari raya Idul Fitri, misalnya, kita akan dapat menikmati dodol Condet yang warnanya kecoklat-coklatan, gurih dan manis. Rata-rata rakyat Condet pandai membuat dodol, makanan khas Betawi. Di samping dodol, kueh terkenal dari Condet adalah geplak. Dibuat dari tepung beras dan kelapa yang diparut.Gambaran umum lingkungan Condet dewasa ini sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan gambaran di atas. Pertumbuhan dan perkembangan Jakarta yang sangat cepat ikut mengakibatkan pola kehidupan penduduk Betawi Condet, terutama keadaan sosial ekonominya uga berubah. Dari hasil pendataan,[23] masyarakat Betawi Condet yang bekerja di sektor pertanian yaitu 71,1 persen pada tahun 1967, menjadi12,6 persen pada tahun 1980. Jumlah ini semakin mengecil dan hilang pada akhir tahun 1990-an. Banyak penduduk asli yang meninggalkan pekerjaannya sebagai petani buah dan memilih pekerjaan lainnya di luar sektor ini. Mereka terpaksa mengalami kondisi seperti ini, karena adanya kebutuhan.

Perubahan terjadi menunjukkan Condet bukan lagi merupakan daerah pertanian yang masih didominasi oleh kebun buah-buahan, tetapi sudah menjadi suatu kawasan yang tidak banyak berbeda dengan daerah lainnya di dalam kota Jakarta. Yaitu dengan terdapatnya pemukiman yang padat beserta pola etnis penduduk yang beragam yang tidak lagi mnggantungkan kebutuhan hidupnya pada hasil kebunnya, melainkan kebanyakan bekerja di sektor urban.Pilihan pekerjaan yang mereka lakukan antara lain menjadi buruh, bekerja pada sektor jasa yang tersedia, terutama di pusat kota atau menjadi pedagang. Bagi mereka yang masih memiliki lahan perkebunan cukup besar, pada musim panen dmereka kembali menjadi petani. Pada petani buah dengan pemilikan lahan usaha stani yang terbatas, pilihan pekerjaan lain di sektor pertanian ini menjadi suatu hal yang penting. Dalam menghadapi kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, mau tak mau terdorong hasratnya untuk memilih pekerjaan lain di luar sektor usaha tani demi kelangsungan hidup diri dan keluarganya.

Aspek penting berkenaan dengan soal pemilikan lahan usaha tani masyarakat Betawi Condet setempat beserta pengalihan fungsi lahan, adalah masalah pewarisan. Fungsi pewarisan ini telah dilembagakan dalam pranata budaya setempat. Ketentuan laki-laki memperoleh lahan dua bagian sedangkan perempuan memperoleh satu bagian. Perwujudan pelaksanaan pranata sosial budaya mengenai pewarisan terlihat pada distribusi pemilikan dan luas lahan yang dimiliki masyarakt setempat. Sistem pewarisan yang dianut, secara alamiah ikut memberikan tekanan terhadap lahan usaha tani milik penduduk di kawasan Cagar Budaya Betawi Condet ini.

Dengan semakin minimnya areal kepemilikan lahan usaha atani, semakin petani tersebut tidak dapat menggantungkan hidupnya hanya dari lahan buahnya saja.Banyaknya jumlah lahan berpindah tangan ke tangan pendatanng, juga menyebabkan menurunnya jumlah masyarakat asli Betawi Condet yang tinggal di kawasan ini. Pada tahun 1980 yang ada hanya 36% saja dari jumlah seluruh penduduk. Kondisi ini cukup menunjukkan bahwa penduduk asli Betawi Condet pada saat ini sudah bukan merupakan kaum mayoritas di wilayahnya.

Adanya peralihan kepemilikan lahan dan penggunaan lahan di daerah Condet, tidak saja menyebabkan hak ekonomi masyarakat Betawi Condet berkurang tetapi juga menjadikan mereka tidak sumber-sumber ekonomi pasti. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, masyarakat Betawi Condet beralih ke bidang pekerjaan yang tidak lagi mengandalkan pada hasil-hasil olahan lahan mereka. Tetapi mereka sudah beralih ke pekerjaan yang lebih teknis dan industrial.Dahulunya mata pencaharian masyarakat Betawi-Condet bisa dibedakan antara mereka yang berdiam di tengah kota dan mereka yang berada di daerah pinggiran kota. Mereka yang berada di tengah kota menunjukan mata pencaharian yang bervariasi, misalnya sebagai pedagang, pegawai pemerintahan, pegawai swasta, buruh, tukang mebel. Sementara itu mereka yang berdiam diri di daerah pinggiran kota biasanya mempunyai mata pencaharian sebagai petani atau pun perkebunan.[24]

Walau pun masyarakat Betawi Condet sudah tidak memiliki lahan pertanian dan sumber-sumber ekonomi pasti di daerahnya, mereka enggan untuk berpindah ke tempat lainnya. Hal ini berbeda dengan citra yang dimiliki oleh suku lainnya di Indonesia yang suka merantau demi mencari sumber-sumber ekonomi yang pasti dan mapan. Salah satu alasan ketidak sukaan orang Betawi Condet merantau adalah karena faktor ekonomi, mereka berfikir untuk bisa keluar daerahnya maka dibutuhkan biaya. Selain itu, masyarakat Betawi Condet pun terikat oleh adat istiadatnya sendiri. Mereka selalu ingin berkumpul dengan sanak keluarga atau kerabatnya. Kepindahan masyarakat Betawi Condet dari satu wilayah ke wilayah yang lainnya, bisa terjadi karena disebabkan oleh adanya faktor dari luar. Artinya bukan merupakan kemauan sendiri.Misalnya, kepindahan anggota masyarakat Betawi Condet ke daerah lain dan harus berpisah dengan kerabatnya disebabkan oleh adanya perkawinan dengan suku atau anggota masyarakat di luar masyarakat Betawi Condet. Sangat sedikit atau malah tidak ada masyarakat Betawi Condet yang mau berpindah ke daerah lain karena alasan-alasan pekerjaan, karena mereka lebih senang mengkais rejeki di daerahnya sendiri.

Ketidakinginan warga Condet untuk merantau mencari sumber-sumber kehidupan yang lebih menjanjikan, terkadang membuat citra masyarakat Betawi itu sendiri menjadi negatif. Mereka dianggap sebagai masyarakat pemalas, rendah pendidikan, dan tidak mau maju.Walaupun demikian masyarakat Betawi Condet masih terikat kuat pada tradisionalitas yang berdasarkan pada agama Islam. Ini tercermin dari kesenian yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan, misalnya marhaban dan qasidahan--yaitu seni musik rebana yang digunakan sebagai acara hiburan dalam perkawinan. Demikian juga acara-acara yang berhubungan dengan hari besar Islam seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha atau Mauludan, selalu diperingati dengan meriah. Identifikasi antara Islam dengan Betawi sangatlah identik. Kebudayaan Betawi sebagai sub kultur hampir tidak bisa dipisahkan dengan Islam, mulai seorang anak Betawi lahir hingga dia meninggal dunia, dalam wilayah pergaulan, semuanya tidak bisa dilepaskan dari ajaran-ajaran Islam.

Adapun sarana-sarana untuk mendalami dan mengikat diri orang Betawi dengan ke-Islamannya, disimbolkan dengan banyaknya masjid-masjid di wilayah ini.Dalam kaitannya dengan sistem kekerabatan, misalnya dalam penarikan garis keturunan, mereka mengikuti prinsip bilinieal, artinya menarik garis keturunan kepada pihak ayah dan pihak ibu. Adat menetap nikah sangat tergantung kepada perjanjian kedua pihak sebelum pernikahan berlangsung. Ada pengantin baru yang sesudah nikah menetap di sekitar kediaman kerabat suami (patrilokal) dan ada pula yang menetap disekitar lingkungan kerabat istri (matrilokal). Pada masa lalu, setiap orang tua selalu bercita-cita membuat rumah (ngerumahin) bagi anaknya yang telah menikah. Yang membuat rumah itu mungkin orang tua pihak laki-laki atau orang tua pihak perempuan. Pada saat sudah dibuatkan rumah itulah, pasangan ini berdiri sendiri lepas dari tanggunga jawab orang tua. Di pihak lain orang tua pada umumya cenderung menyandarkan hidup di hari tuanya pada anak perempuan. Mereka merasa anakprempuan sendiri akan ebh telaten mngurus orang tua dari pada menantu perempuan, meskipun mereka tidak membedakan anak laki-laki dn anak perempuan.Dalam rangka lingkaran hidup individu atau daur hidup, orang betawi mengenal bermacam-macam adat atau upacara, mulai sejak bayi dlam kandungan sampai kepada kematian dan sesudah kematian itu sendiri.

Mereka mengenal upacara selamatan ketika jabang bayi tujuh bulan dalam kandungan (nuju bulanin) atau kekeba, uapaca kerik tangan dalam rangka kelahiran , khitanan (penganten sunat) khatam Quran (penganten tamat) adat berpacaran (ngelancong) bagi kaum remaja, upacara perkawinan dn sebagainya. Berikut ini akan diberikan sekadar penjelasan singkat dari adat atau upacara tertentu.Seperti juga pada beberapa masyarakat lain orang Betawi juga mengadakan upacara ketika seseorang wanita hamil tujuh bulan yang disebut upacara ikekeba atau nuju bulanin (nujuin). Upacara ini diadakan hanya pada kehamilan pertama. Tujuan upacara ini adalah mensyukuri nikamat Tuhan , memohon keselamatan, berisi harapan agar anak yang akan lahir itu menjadi anak yang soleh , berbudi luhurpatuh pada orang tua, danupara ini semacam pemberitahuan kepada masyarakat lingkungan nya. Itulah sebabnya dalam upacara ini dibaca kitab suci Al Quran, khususnya surat Yusuf. Isi surat ini menggambarkan ketampanan paras nabi Yusuf, keluhuran usi akhlaknya, kepatuhannya pada orang tua. Lalu terselip harapan semoga anak yang akan lahir ini mendekati sifat nabi itu.Dalam kehidupan sehari-hari yang yang berprilaku tak senonoh sering disebut kaya engga dikebain.

Dalam rangka upacara ini masyarakat Betawi ingin menonjolkan nilai-nilai tahu bersyukur kepada tuhan, sholeh, budi luur dan taat pada orang tua. Setelah kelahran bayi antara lain ada upacara kerik tangan. Upacara ini berupa serah terima tugas perawatan bayi dari dukun bayi kepada keluarga yang ditolong dukun itu. Intinya merupakan ungkapan rasa teri kasih dari keluarga itu kepada sang adukun, dan dukun sendiri mengisyaratkan bahwa ia melakukan pekerjaan itu dengan penuh keikhlasan.Orang Betawi melaksanakan khitanan, yang disebut sunatan atau pnganten sunat untuk memenuhi ketentuan agama dan kesehatan.anak laki-laki yang disunat pada usia 5-10 tahun. Rangkaian acara itu sendiridari acara mengarak, menyunat, dan selamatan. Anak yang disunat dikenakan pakaian penganten dan diarak keliling kampung. Kadang-kadang anak yang disunat itu naik kuda dan disertai bunyi-bunyian seperti rebaa dan gamelan. Perangkat arak-arakan ini seperti pakaian pengantin dan kuda tadi, biasanya disewa.Bunyi-bunyian tadi untuk menarik perhatian masyarakat sekitarnya terutama anak-anak dan ikut memperpanjang barisan arak-arakan.

Hal ini menyebabkan anak yang akan disunat menjadi gembira.acara sunatan sendiri dilaksanakan keesokan harinya yang dilanjutkan dengan selamatan pada petang dan malam harinya. Bagi yang tidak mampu selamatan itu dilaksanakan dengan sederhaa dengan mengundng para tetangga dan orang-orang yang membacakan doa. Bagi yang mampu, upacara selamatan itu diteruskan dengan hiburan, misalnya pertubjukan topeng, lenong, atau wayang yang berlangsung semalam suntuk.Sejak masa lalu pendidikan agama bagi anak-naka Betawi, baik pria maupun wanita sangat diutamakan antara lain belajar mengaji Quran. Suatu waktu , guru mengaji menyatakan kepada orang tua tentang kemampuan anaknya yang dianggapcukup dan tamat dalam mengaji Quran. Keputusan guru mengaji tadi merupakan kebahagian dan kebanggaan tersendiri bagi yang bersangkutan dan orang tuanya. Karena itulah diadakan upacara penyambut keberhasilan ini dengan nama upacara penganten tamat.yang sudah menjadi tradisi bagi orang Betawi. Upacara ini sekaligus berfungsi sebagai suatu peberitahuan kepada masyarakat .Khatam Quran ini merupakan salah satu unsur wahana mengangkat status seseorang anak menjadi lebih tinggi dalam pandangan masyarakat, sehingga mudah diterima dalam pergaulan dan basanya mudah dalam mendapatkan jodoh. Sebaliknya dengan telah dilangsungkannya upacara tadi, seseorang diharapkn akan ,mengubah sikap sebagai anak-anak menjadi semakin dewasa, mengamalkan ilmu yang dimiliki, menjadi suri teladan dalam masyarakat. Upacara inipun merupakan sarana untuk terjadinya sarana transformasi nilai agama dan nilai sosial dalam masyarakat Betawi ini.

Dalam upacara perkawinan, masyarakat Betawi memiliki rangkaian-rangkaian yang merupakan satu kesatuan yaitu mulai dari upacara melamar (ngelamar), serahan, pesta, malem negor, dan lain-lain. Sebelum perkawinan berlangsung, biasanya di dalam masyarakat Betawi berlangsung tradisi yang dinamakan ngelancong. Ngelancong adalah salah satu prosesyang harus dilewati oleh anggota masyarakat Betawi sebagai langkah untuk memperdalam dan meyakinkan antara pasangan laki-laki dan perempuan.[25] Apabila dalam proses ngelancong ini berlangsung lancar, maka mereka meneruskannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu ngelamar dan meneruskannya ke jenjang akhir yaitu jenjang pernikahan. Masyarakat Condet mempunyai kebiasaan menikah dengan sesama kerabatnya, maka hal ini pada awal-awalnya merupakan hambatan bagi Condet untuk maju. Perbauran dengan kawin campur antar golongan atau suku bangsa tadi dpula oleh danya kesatuan agama. Orang Betawi dapat dikatakan hampir seluruhnya memeluk agama Islam. Mereka juga umumnya dmerupakan pemeluk-pemeluk agama yang taat. Kehidupan mereka banyak dipengaruhi oleh norma-norma dan nilai-nilai agama Islam.***

[1] Ridwan Saidi, Ibid.
[2] Ridwan Saidi beralasan tentang hal ini, kalau seandainya Jakarta belum dihuni oleh masyarakat buat apa raja Tarumanegara membangun bendungan dan irigasi. Lih, Ridwan Saidi, Op.Cit hal. 4-5.
[3] Tidak ada data-data tertulis mengenai asal usul penamaan daerah Condet. Keterangan bahwa kata Condet berasal dari dua suku kata yaitu ci dan ondeh hanyalah merupakan cerita masyarakat Betawi yang diwariskan secara turun temurun (oral history). Cerita ini pun bertahan sampai sekarang, lebih lanjut mengenai hal ini atau pun tentang asal usul daerah lainnya di Jakarta dapat dilihat dalam www.beritaJakarta.com.
[4] Alwi Shahab dalam Republika, 11 Nopember 2001.
[5] Ibid.
[6] Lebih jelasnya dapat dilihat dalam www.bluefame.com.
[7] Ran Ramelan adalah salah satu dari sekian penulis yang mengabadikan kehidupan masdyarakat Betawi Condet dalam sebuah buku. Untuk lebih jelasnya silahkan baca dalam Ran Ramelan, Condet, Cagar Budaza Betawi. Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Yakarta, tanpa tahun.
[8] www.bluefame.com
[9] Republika, 4 Nopember 2007
[10] Ran Ramelan, Op.Cit.
[11] Sumber Arsip Kolonial, De Haan 1910:1911: Van Diesen 1989.
[12] Lihat M. Junus Melalatoa, Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia: Jilid A-K. Departemen P & K Republik Indonesia. Jakarta, 1995.
[13] M. Junus Melalatoa, Ibid.
[14] Lihat dalam Tatok Taranggono, Cagar Budaya Condet: Suatu Kajian Ekologi Budaya di Wilayah Condet DKI Jakarta. Disertasi pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia Jakarta, 1992. Keterangan yang hampir senada juga dapat dilihat dalam Nurjati, Partisifasi Masyarakat Betawi pada Upaya Pelestarian Lingkungan (Studi Kasus di Kawasan Condet Jakarta Timur), Disertasi Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia. Jakarta, 1996.
[15] Tatok Taranggono, Ibid.
[16] Tatok Taranggono, Op. Cit
[17] Tatok Taranggono, Lock. Cit.
[18] www.beritaJakarta.com
[19] Kompas, 19 juli 2005
[20] Warta Kota, 7 April 2006
[21] Intisari, Juni 2004
[22] Republika, 22 Juni 2008
[23] Lihat disertasinya, Nurlina Henny Sipatuhar, Hubungan Antara Femininitas-Maskulinitas: Konsep Diri dan Minat Pilihan Pekerjaan Pada Siswa-Siswi Kelas 3 SMA Negeri 51 Condet. Disertasi pada Program Studi Psikologi Program Pascasarjana Universitas Indonesia Jakarta, 1994.…..
[24] Baca M. Junus Melalatoa, Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia: Jilid A-K Departemen P & K Republik Indonesia. Jakarta, 1995. Tetapi sepertinya tesis pembagian seperti ini sekarang ini sudah tidak relevan lagi, mengingat di Jakarta pada saat ini sulit sekali ditemukan daerah pinggiran yang penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani atau pun di bidang perkebunan.
[25] M. Junus Melalatoa, Ibid. hal. 164.

sumber: http://sabdaleqom.blogspot.com/2008/07/sejarah-condet.html?zx=8af58a9cd8a07cf

Pendiri Global Islamic School

Menggagas Sekolah Islam Bertaraf Internasional

ImageB Winarso
Berangkat dari keprihatinan dan panggilan nurani, ia mendirikan Global Islamic School berbasis imtak dan iptek. Cita-citanya satu, menjadikan sekolah Islam tidak lagi dipandang sebelah mata.
Ceritanya berawal delapan tahun lalu, tepatnya pada tahun 2001. Saat itu, usaha laki-laki ini adalah show room mobil. Tak disangka-sangka, ketika mengambil mobil di sekitar Matraman,




Oleh Rivai Hutapea

Jakarta Timur, mobilnya terlempar batu tawuran anak sekolah.

Spontan saja, muka laki-laki yang ramah ini memerah. Namun, itu tak berlangsung lama. Entah mengapa, justru timbul keprihatinan dari dalam hatinya. Ia pun bertanya-tanya apa yang salah sehingga anak-anak sekolah tawuran seperti itu.

Sejak kejadian itu, ada dorongan kuat yang tak kuasa dibendung dari dalam dirinya untuk mengentaskan problem tawuran tersebut. Tanpa sengaja laki-laki ini bertemu dengan H Syaichul Basyar dan teman-teman.

Mereka mengobrol panjang lebar tentang problem tawuran ini. Dari obrolannya dengan Syaichul Basyar cs, tercetuslah ide mendirikan sekolah Global Islamic School (GIS).

B Winarso, demikian nama laki-laki yang penuh perhatian ini. Keputusan suami Ninik Yuliani menceburkan diri ke dunia pendidikan tak pernah ada yang menduga. Tidak sedikit pula dari koleganya yang mencibir, bahkan menyebutnya “gila”. Sebab, ia dianggap terlalu berani terjun di dunia yang sama sekali tidak pernah ditekuni sebelumnya.

“Karena hati. Kalau sudah bicara hati, penjabarannya sangat luas. Kecintaan bahasa saja tidak ada artinya kalau tidak tumbuh dari hati. Niat yang baik tentu akan dikabulkan Allah SWT,” ujarnya memberi alasan keputusannya melibatkan diri ke dunia yang mencerdaskan anak bangsa.

Dengan modal usaha sebelumnya, setahun kemudian pada tahun 2002, Pak Win - demikian laki-laki kelahiran Kebumen ini biasa disapa - membuka sekolah GIS berbasis imtak dan iptek di kawasan Condet, Jakarta Timur. Mulai dari sekolah Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU).

Tak pernah terbayang sebelumnya, langkahnya itu cepat berbuah. Tak seperti kebanyakan sekolah baru, begitu dibuka orang tua murid yang mengambil formulir pendaftaran di GIS berjumlah 867 orang. Padahal siswa yang diterima hanya sebanyak 380 untuk semua unit dari tingkat play group, TK sampai SMU.

Bahkan, dari tahun ke tahun kecenderungannya semakin bertambah. Padahal, kuota yang dapat diterima jumlahnya tidak bertambah. “Alhamdulillah,” ujar Winarso penuh syukur.

Keterbatasan kuota murid yang diterima ini, tak dapat dilepaskan dari komitmen awal Pak Win, mendirikan lembaga ini. Yaitu, mengemban amanah orang tua siswa. Karena itu, Winarso menetapkan jumlah murid di play group hanya 15 orang.

Untuk TK A-B berjumlah 20 murid, SD-SMA 24 murid saja secara paralel masing-masing kelompok. Sehingga total jumlah murid yang diterima 380 setiap tahun.

“Dengan jumlah murid yang terbatas, pengontrolan guru kepada anak didik juga akan maksimal. Sehingga diharapkan proses belajar mengajar akan berjalan efektif dan maksimal seperti yang kita harapkan,” jelasnya.

Meski kebanjiran pendaftar setiap tahunnya, namun ayah tiga putra ini belum berani menyebut fenomena ini disebabkan keunggulan dari sekolah bertaraf internasional yang didirikannya ini. Malah, Pak Win mengaku GIS masih punya banyak kekurangan yang mesti dibenahi.

Sebab menurut hematnya, untuk dapat dibilang eksis dan memiliki warna, produk sebuah lembaga pendidikan sedikitnya telah berjalan 15 tahun dihitung sejak pertama kali berdiri. Enam tahun untuk produk awal.

Meneruskan sampai SMU berjumlah 12 tahun. Kemudian tiga tahun berikutnya baru memberikan warna. “Sebab produk pendidikan bersifat long time,” katanya memberi alasan.

Terkait dengan sekolah bernuansa Islam, Winarso mengaku prihatin dengan perkembangannya. Selama ini, sekolah Islam dipandang sebelah mata, bahkan selalu dinomorduakan.

Padahal - semestinya, tidaklah seperti itu. Ia pun berkeinginan ada sekolah Islam - tak terkecuali GIS - mampu bersaing dengan sekolah (terutama) yang berciri keagamaan lainnya.

Untuk merealisasikan cita-citanya menjadikan GIS sebagai sekolah kebanggaan umat Islam, ia terus membenahi GIS. Salah satunya dengan menambah lokasi baru dan memperluas sarana pendidikan.

Kini, GIS memiliki tiga lokasi pendidikan. Di Condet Raya No 5 berdiri komplek sekolah dengan seluas satu hektar. Di sini diperuntukkan untuk tingkat SMP-SMU.

Di depan komplek ini seluas 9.000 meter berdiri GIS untuk play group dan TK. Beberapa meter dari situ, seluas 9.000 meter berdiri lokasi pendidikan untuk tingkat SD.

Selain menyediakan halaman yang memadai bagi murid, ia juga berusaha menyediakan sarana belajar dan gedung sekolah yang mumpuni untuk memompa kreativitas para anak didik dari tingkat SD sampai SMU.

“Karena minimnya tempat, kadang-kadang untuk napas saja anak-anak kesulitan. Tersedianya lokasi, halaman dan sarana penunjang lainnya akan memicu anak didik belajar dan berkreatif,” tandas pria yang berpikir jauh ke depan ini.

Tak hanya itu, sekolah Islam menurutnya jangan alergi dengan perkembangan teknologi, bahkan semestinya berada di garda terdepan memanfaatkan teknologi yang ada.

Itulah sebabnya, ia juga memfasilitasi proses belajar mengajar di GIS dengan menggunakan teknologi tinggi, seperti pemanfaatan IBIM. IBIM adalah media pendidikan di mana seorang guru menjelaskan di papan tulis, anak-anak dapat men-set-nya di laptop.

“Dengan sarana ini murid-murid diharapkan familiar dengan teknologi. Berguna juga untuk mengulang pelajaran kembali di rumah masing-masing,” tandasnya sambil mengharap sekolah-sekolah Islam lainnya dapat pula memanfaatkan teknologi ini.

Yang lebih penting dari itu sambung Win, ketersediaan staf pengajar yang memadai. Agar proses pendidikan keislaman maksimal, ia menyediakan dua orang guru setiap kelas. Satu diantaranya adalah guru agama yang bertugas mengawal pendidikan keislaman murid.

Karena itu, dari 170 staf pengajar di GIS, 80 diantaranya adalah guru ngaji. Mereka inilah yang setiap hari mengajar baca Qur’an dan nilai-nilai Islam kepada anak didik sehingga ada kontrol yang efektif kepada murid.

Lahir di desa terpencil Wonokromo, Kecamatan Alian, Kebumen, Winarso terlahir dari pasangan Arsomiharjo-Sunarti. Dari kecil ia tinggal bersama neneknya. Pendidikan SD-SMP diselesaikan di kampung halamannya, Kebumen.

Pernah masuk SMP Tamtama di Kebumen. Lantaran harus bekerja untuk membiayai sekolahnya. Masuk ke SMA Muhammadiyah di Kebumen. Waktu SMA menjadi masa yang berarti baginya karena disinilah bibit-bibit keislamannya mulai tumbuh.

Usai tamat SMA, ia menguji nasib ke Jakarta dan bekerja di perusahaan tenaga kerja Indonesia mengikuti Pak Farid. Di sini ia bekerja selama sembilan tahun. Tahun 1991, Win memberanikan diri mendirikan usaha tenaga kerja sendiri dengan bendera Bumenjaya Duta Putra.

Satu yang menjadi cita-cita Pak Win, bermunculan sekolah-sekolah Islam yang mampu memiliki sarana memadai, bersaing, tidak stagnan, maksimal memanfaatkan teknologi dan unggul dari segi aplikasi agama. Dengan demikian sekolah Islam tidak lagi akan dipandang sebelah mata, apalagi dinomorduakan.

http://sabili.co.id/index.php/200904071529/Wawancara/B-Winarso.htm

Labels: , , , ,

Thursday, March 08, 2007

condet pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Salaksana

Tulisan ini cuplikan dari hasil penelusuran IPOSI - Silat Silau Macan dari tanah Condet.

Condet yang terbagi dalam tiga kelurahan Bale Kambang, Batu Ampar, dan Kampung Gedung gagal menjadi cagar budaya dan kini telah dipindahkan ke Setu Babakan oleh pemerintah DKI Jakarta, namun bila melihat sejarah panjang daerah ini, sejak 3.000 sampai 4.000 tahun lalu di kawasan yang berbatasan dengan Kramatjati ini sudah ada kehidupan. Ditemukan kapak batu, gerabah, dan lampu perunggu di sini. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Budayawan Ridwan Saidi (Koran Republika-red) bahwa dahulu condet pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Salaksana pada tahun 120M, nama-nama yang menjadi sejarah seperti seperti Bale Kambang dan Batu Ampar. Bale Kambang adalah tempat pesanggrahan raja-raja, sedangkan Batu Ampar merupakan batu besar tempat meletakkan sesaji (sesajen).

Namun ada catatan yang tertinggal disana, bahwa condet tidak hanya sebuah kawasan yang memiliki ciri khas betawi namun juga budaya yang masih tertinggal dan tetap dijaga oleh penduduk asli betawi disana.

Diceritakan juga bahwa condet merupakan basisnya pendekar dan juga alim ulama, dan salah satu pendekar yang cukup tersohor namanya adalah ayah kakeknya sendiri yaitu Entong Gendut, sepak terjangnya kepada Kompani belanda menjadi cerita sendiri yang menjadi sejarah daerah ini.

Untuk itu, sebaiknya kita kembali dulu pada keadaan ratusan tahun sebelumnya. Di ujung Jl Condet Raya terdapat sebuah gedung tua yang kini tinggal kerangka di bagian depannya karena terbakar pada 1985. Gedung yang terletak di Jl Tanjung Timur (Tanjung Oost) yang kala itu dinamakan gedung Grooneveld merupakan rumah tuan tanah terbesar yang pernah dibangun di Batavia (1756) yang letaknya jauh di luar kota. Waktu itu, untuk mencapai gedung megah ini diperlukan lima jam dari pusat kota (Pasar Ikan) dengan kereta kuda. Adanya gedung ini menjadikan kawasan tersebut hingga sekarang dinamakan Kampung Gedung.

Gedung ini dibangun oleh Vincent Riemsdijk, anggota Dewan Hindia, sebagai perkebunan dan sekaligus peristirahatan. Setelah kematiannya, putranya Daniel van Riemsdijk, seorang petani andal, benar-benar mengurus perkebunan Tanjung Timur dan mengelolanya dengan baik. Pada waktu itu, 6.000 ekor sapi digembalakan di perkebunan ini, tempat yang sekarang berdiri gedung-gedung megah dan jalan raya dari Tanjung Timur ke Terminal Kampung Rambutan.

Di gedung ini pada 1749 pernah berlangsung pertemuan antara Gubernur Jenderal Von Imhoff dan Ratu Syarifah Fatimah, wali sultan Banten. Syarifah, wanita terdidik dan cerdas, pada 1720 menjadi istri Pangeran Mahkota Banten, Zainul Arifin. Ia sangat berpengaruh terhadap suaminya ketika menjadi sultan Banten (1733). Tapi, Syarifah sendiri meninggal dengan merana karena dibuang ke Pulau Edam di Kepulauan Seribu, akibat pemberontakan Kyai Tapa (1750). Ia ditangkap akibat ambisinya untuk mengangkat Syarif Abdullah, yang menikah dengan keponakannya, untuk dijadikan pangeran mahkota Kesultanan Banten.

Gedung yang juga dikenal dengan Vila Nova itu telah beberapa kali berganti pemilik. Menurut Ran Ramelan dalam Condet Cagar Budaya Betawi tiap penggantian tuan tanah ini, diadakan peraturan baru yang memberatkan rakyat Condet. Terhadap tiap pemuda Condet yang telah menginjak dewasa dikeluarkan kompenian atau pajak kepala sebesar 25 sen (nilainya kira-kira 10 liter beras). Karena banyak petani yang tidak sanggup membayar blasting (pajak) yang sangat memberatkan itu, tuan tanah sering membawa petani yang tak sanggup membayar ke landraad (pengadilan). Dan tuan tanah di Condet kelewat getol dalam membikin perkara. Akibatnya banyak petani yang bangkrut, rumahnya di%@!#$&, atau tak jarang yang dibakar. Penduduk yang belum membayar blasting hasil sawah dan kebunnya tidak boleh dipanen.

Melihat penderitaan rakyat yang demikian itulah, Entong Gendut meradang. Ia kumpulkan sejumlah warga Condet. Panji perang dikibarkan. Dengan meneriakkan Allahu Akbar, Entong Gendut mengobarkan semangat jihad fi sabililah. Saat itulah, pada 5 April 1916 perang berkobar di Vila Nova yang ditempati Lady Lollinson dan para centengnya. Entong Gendut bersama para pemuda Condet, bersamaan dengan pertunjukan Tari Topeng menyerbu tempat itu.

''Allahu Akbar ..... Sabililah ..... gue enggak takut ame kompeni'', teriak Entong Gendut dan kawan-kawannya. Namun setelah datang bantuan dari Batavia, pemberontakan itu ditumpas. Haji Entong Gendut pun syahid tertemnbus timah panas. Ada berbagai versi tentang kematiannya. Haji Sapri, salah satu cucunya yang tinggal di Condet kepada penulis beberapa waktu lalu mengatakan, kakeknya ditembak Belanda bukan di Kampung Gedong, tapi di Batu Ampar. ''Saat beliau hendak melewati sungai ketika dikejar kompeni.'' Versi lain menyebutkan, jenazahnya diangkut kompeni, kemudian diceburkan ke laut. Nama pahlawan ini pernah diabadikan untuk sebuah jalan di Condet. Sayangnya, entah karena apa kini diganti menjadi Jl Ayaman, nama salah satu tuan tanah. (Koran Haraoan)

Dari cuplikan kisah tadi mungkin kita akan bertanya, mengapa kita sebagai warga betawi (Jakarta) membiarkan kekayaan budaya ini menghilang, dan tentunya melalui tulisan ini, kami berharap anda sebagai generasi muda memiliki rasa percaya diri bahwa silat adalah budaya dan asset kita bersama.



Friday, April 07, 2006

CONDET

JALAN Condet Raya, Jakarta Timur, yang menghubungkan daerah Cililitan-Gedong Cijantung selalu hiruk-pikuk. Ken-daraan bermotor tidak pernah putus lewat dan menghamburkan polusinya di mana-mana. Rumah-rumah gedongan gaya masa kini berdiri di mana-mana, seperti layaknya kawasan lain Ibu Kota, lengkap dengan stasiun pompa bensin.

Kawasan Condet yang di atas kertas disebut sebagai kawasan cagar budaya Betawi itu sama sekali tidak ada bedanya dengan kawasan permukiman Jakarta umumnya. Bangunan-bangunan bertingkat terlihat di mana-mana. Jalan-jalan beraspal pun sudah tembus dari tempat satu ke tempat lain. Di mana-mana dapat dilihat papan bertuliskan 'rumah ini dijual'. Kalau dibilang ada bedanya, kawasan itu memang sedikit lebih hijau.

Lebih 24 tahun lalu, kawasan itu diresmikan sebagai daerah cagar budaya Betawi dan sentra buah-buahan. Selembar surat keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin bernomor D.IV-115/e/3/1974 dikeluarkan untuk menguatkan kawasan seluas 18.228 hektar sebagai kawasan cagar budaya yang meliputi Kelurahan Batuampar, Balekambang, dan Kampungtengah.

Begitulah-seperti kebanyakan hal lainnya di negeri ini- kebijakan itu hanya berhenti di atas kertas. Ketidakjelasan konsep dan lemahnya pengawasan mengakibatkan kawasan cagar budaya itu tumbuh sebagaimana layaknya permukiman biasa. Pemda DKI sempat men-status-quo-kan kawasan itu pada tahun 1986 karena derasnya pembangunan perumahan. Saat itu pemda melarang mutasi tanah, tanaman maupun tata guna tanah di kawasan Condet.

Status quo juga tinggal omongan belaka. Sekitar tahun 1990, puluhan rumah mewah juga tumbuh di kawasan itu. Pemda DKI pun hanya melongo seperti macan kertas karena tidak mampu melakukan apa-apa atas tumbuhnya kawasan itu. Tidak ada kekuatan hukum pemda yang mampu menghambat dan menjaga Condet untuk tumbuh menjadi permukiman Betawi yang khas. Apalagi aparat malah lebih suka esek-esek menggosokkan jari dan telunjuk kepada warga yang mau kongkalikong.

Tidak heran jika saat ini, sama sekali tidak ada perbedaannya antara kawasan ''cagar budaya'' Condet dengan kawasan permukiman Ibu Kota lainnya. Warga Condet pun sama sekali tidak merasakan manfaat dari ditetapkannya kawasan mereka menjadi kawasan cagar budaya, kecuali kesulitan membangun karena larangan pemda. Sejumlah warga menilai, kebijakan cagar budaya Pemda DKI untuk Condet itu sama sekali tidak memperhitungkan keberadaan warganya, yang juga perlu hidup dan bermata-pencaharian sebagaimana layaknya warga Jakarta lain.

***
JIKA warga Condet ditanya, apa enaknya menjadi pemukim di kawasan cagar budaya, mungkin ia akan tertawa. Itu namanya ngelindur. ''Masyarakat Betawi asli yang berada di sini tidak memperoleh keuntungan sedikit pun dari penetapan Condet sebagai Cagar Budaya,'' tutur M Rosyid Achmad.

Pemda DKI memang disebut-sebut memberi bantuan kepada Condet. Seumur-umur kawasan itu ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya, Pemda DKI pernah memberi bantuan untuk membangun sebelas rumah khas Betawi di Kelurahan Balekambang dan enam rumah di Batuampar. ''Selain itu, tidak ada dampak peningkatan hidupnya bagi masyarakat Betawi,'' jelas Achmad, yang juga mantan Sekretaris Lurah Batuampar .

Ujung-ujungnya malah warga mendapat kesulitan karena tanah terkena ketentuan khusus sebagai kawasan cagar budaya. Untuk membangun gubuk saja-istilahnya-sulitnya minta ampun karena untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan (IMB) sulitnya minta amplop, eh minta ampun.

Harga tanah tidak pernah lebih dari Rp 500.000 per meter perseginya. Kalau lagi butuh duit, saat ini warga paling menjual tanahnya seharga Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per meter persegi. Padahal kalau Condet bukan kawasan cagar budaya, harga tanah bisa mencapai Rp 1 juta per meter. ''Gara-gara dinamain cagar budaya segala, orang luar jadinya ragu-ragu kalau mau membeli tanah di sini. Padahal kehijauan dan dinginnya daerah ini merupakan daya tarik Condet untuk menjadi pemukiman,'' kata seorang warga Betawi di ujung Jl Kober Balekambang. ''Tuh rumah tetangga saya saja nggak laku-laku,'' katanya sambil menunjuk sebuah gang di Jl Gardu.

Kawasan Condet memang merupakan daerah yang memiliki koefisien dasar bangunan (KDB) yang rendah, 20 persen. Artinya, dari lahan yang dimiliki hanya 20 persennya saja yang boleh dibangun. Dengan KDB demikian itu maka hanya mereka yang memiliki tanah minimal seluas 500 meter persegi yang boleh mendapatkan IMB. Padahal setelah tanahnya dijual sana-sini, masyarakat Betawi sendiri tanahnya paling pol 100 sampai 200 meter persegi saja.

''Kalau sudah demikian, mereka datang kepada saya untuk minta izin membangun rumahnya sendiri di tanah yang cuma segitu-gitu-nya. Apa lalu saya harus menolaknya? Nah di sini cagar budaya itu menjadi buah simalakama bagi saya,'' tutur Lurah Achmad. Bicara sebagai pribadi, dia lebih suka cap cagar budaya Betawi untuk Condet itu dicabut saja.

Di Kelurahan Balekambang saja dengan luas wilayah 167,450 hektar kini hanya tinggal 35 persen saja yang masih merupakan kebun salak dan dukuh. Atau cuma 58 hektar saja. ''Sedangkan selebihnya sudah merupakan bangunan yang sebagian besar tidak memiliki IMB,'' ungkap Achmad. He..he.. yang aneh kok pelanggaran itu malah dibiarkan. ''Jadi tidak heran jika kawasan Condet sebagai cagar budaya itu tambah ruksak saja,'' ujar seorang warga.

Jika Condet saja bisa dibilang gagal, lalu kawasan Srengsengsawah di-incer untuk cagar budaya Betawi, ya orang Betawi cuma titip pesen buat para petinggi Pemda DKI, ''Cuma keledei yang jatuh dua kali di lubang yang same,''. Dan yang pasti, para petinggi pemda 'kan bukan keledai. Percaya deh!


Sumber sejarah : Kcm

'Revolusi' Bulan April di Condet

Sabtu, 09 April 2005
'Revolusi' Bulan April di Condet


Memasuki kawasan Condet dari arah Cililitan dikenal sebagai salah satu pusat kemacetan di Jakarta Timur. Padahal Condet, yang terdiri dari tiga kelurahan (Bale Kambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah) luasnya 632 hektare kira-kira lebih separuh lapangan Monas pernah hendak dijadikan Cagar Budaya Betawi. Alasan Bang Ali 30 tahun lalu, karena 90 persen masyarakatnya asli Betawi. Kala itu, 60 persen penduduk Condet petani salak dan duku, 20 persen buah-buahan lainnya, dan hanya 15 persen buruh/karyawan.

Kini, kebun dan tanah pertanian berubah jadi perumahan dan gedung bertingkat. Tidak ditemui lagi duku dan salak condet yang manis dan masir. Pohon-pohon melinjo yang dijadikan emping ketika ratusan 'home industri'-nya menjamur di Condet kini sudah hampir tidak membekas. Warga Betawi sudah banyak hengkang. Sejumlah warga Betawi yang tersisa, kini tidak lagi menjual tanahnya seperti dulu. Mereka membangun rumah-rumah petak untuk dikontrakan. Hasil kontrakan cukup untuk hidup sederhana.

Banyak warga keturunan Arab dari Jakarta dan Jawa Timur kini tinggal di Condet. Seperti di Jl Condet Raya -- jalan raya dua jalur yang selalu macet --, kini banyak penjual minyak wangi, kitab bahasa Arab, madu Hadramaut dan Arab sampai rumah makan penjual nasi kebuli. Tentu saja sejumlah gedung dan kantor penampungan TKW.

Kita mengangkat masalah Condet, karena dalam bulan April ini ada peristiwa besar di sini. Tepatnya pada 15 April 1916, ketika Haji Entong Gendut memimpin para petani di depan rumah Lady Rollensin, pemilik tanah partikulir Cililitan Besar. Pada pertengahan abad ke-17 kawasan Cililitan merupakan bagian dari tanah partikulir Tandjong Oost (kini Tanjung Timur), saat dimiliki Pieter van der Velde.

Setelah beberapa kali berpindah tangan, awal abad ke-20 jadi milik keluarga Rollinson. Sisa-sisa gedung ini yang pernah terbakar masih kita dapati, saat masih jadi rumah peristirahatan Vila Nova. Terletak di depan Markas Latihan Rindam Kodam Jaya (ujung Jl Raya Condet), bersebelahan gedung PP dan Super Indo Market. Kala itu, gedung tuan tanah pekarangannya begitu luas hingga mencakup kawasan Tanjung Barat dan Kramat Jati. Belanda menamakan Groeneveld (lapangan hijau). Di sini terdapat peternakan sapi dengan produksi ribuan liter susu per hari untuk konsumsi masyarakat Belanda di Batavia.

Kembali kepada Entong Gendut, ia seorang berani. Gelar haji menunjukkan ia orang bertakwa. Berlainan dengan jagoan masa kini, waktu itu Entong Gendot pembela rakyat tertindas. Melawan kekuasaan kolonial: tuan tanah yang memeras, dibantu wedana dan menteri polisi yang disebut upas. Syahdan para tuan tanah masa itu tidak kalah serakahnya dengan para koruptor masa kini. Hingga masyarakat bertanya-tanya apakah pemerintahan SBY-YK bisa memberantas dan menghukum mereka.

Di Condet kekejaman terjadi saat Vila Nova yang sering dikunjungi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk berakhir minggu, dijual pada Lady Robinson, orang kaya berkebangsaan Inggris. Lebih-lebih terhadap petani yang gagal membayar pajak. Dan tuan tanah kelewat getol mengadukan mereka ke landrad (pengadilan) untuk membikin perkara. Akibatnya banyak petani bangkrut, rumahnya dijual, tak jarang dibakar. Termasuk harta miliknya Pak Taba. Dan ketika eksekusi hendak dilaksanakan, rakyat Condet marah dan ramai-ramai mendatangi vila Nova guna menggagalkannya. Itu terjadi Februari 1916.

Insiden kedua April 1916. Waktu itu tengah berlangsung pertunjukan topeng. Dan ketika pertunjukan mendekati pukul 11 malam, terdengar teriakan-teriakan. Acara supaya dihentikan. Perintah datang dari Entong Gendut. Rakyat patuh kepada tokoh kharismatik ini dan mereka bubaran dengan tenang.

Rupanya kala itu Entong ingin membuat pemanasan. Ketika ia ditanya aparat kenapa ia berani nyetop pertunjukan topeng, ia menjawab: ''Demi Agama'. Ia hendak mencegah perjudian. Sambil dengan tegas dan memegang keris ia berikrar: 'Siap untuk membela petani yang jadi korban kejahatan tuan tanah'.

Kemudian ada info yang memberihu para pejabat di Pasar Rebo dan Meester Cornelis banyak orang berkumpul di rumah Entong Gendut. Ketika wedana diiringi para upas berseru agar Entong keluar rumah, ia dengan suara mantap berkata: ''Saya akan keluar setelah shalat.'' Ketika ia keluar, disertai ratusan para pengikutnya sambil berteriak: Sabi'ullah gua kagak takut mati. Pertempuran yang tidak seimpang terjadi. Tapi pihak Belanda kewalahan. Kemudian bantuan datang, dan Entong Gendut tertembak mati sebagai sahid.

Setelah pemberontakan Entong Gendut dipadamkan, sikap tuan tanah makin kejam. Rakyat yang sudah biasa ditakut-takuti itu akhirnya berani lagi mencoba melawan peraturan tuan tanah yang kejam. Pemberontakan kedua terjadi tidak sampai dengan kekerasan senjata. Ini berupa penjajagan, sampai di mana keberanian antek-antek tuan tanah tadi. Percobaan dilakukan dengan penebangan pohon-pohon besar yang tumbuh di tanah kuburan. Demikianlah pada 1923 terjadi penebangan di tanah pekuburan di Condet, yang mereka namakan Kober. Suatu keberanian melawan tindakan yang diharamkan Belanda.

Setelah itu rakyat Condet makin berani melawan kompeni. Hingga tidak jarang yang menunggak pajak. Ini berlangsung hingga 1934. Dipelopori beberapa orang rakyat Condet mengadukan kepada pengadilan mengenai tuan tanah keturunan Jan Ameen. Rakyat meminta bantuan hukum pada Mr Sartono, Mr Moh Yamin, Mr Syarifuddin dll. Rakyat Condet menang perkara, tetapi seperti diuraikan oleh Ran Ramelan, penulis buku ''Condet Cagar Budaya Betawi'', sejauh ini belum ada keputusan, sehingga datang Pemerintahan Federal. Untuk mengenang kepahlawanan Entong Gendut, pernah diusulkan agar salah satu jalan di Condet diabadikan nama almarhum.
(Alwi Shahab, Wartawan Republika )

Condet Cagar Sejarah Betawi

Republika, Minggu, 11 Nopember 2001
Condet Cagar Sejarah Betawi
Oleh Alwi Shahab

Condet, yang ditetapkan gubernur Ali Sadikin sebagai cagar budaya Betawi sejak 1976, boleh dikata gagal total. Warga Betawi yang dulu mayoritas di kawasan Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur ini, sudah banyak yang hengkang atau makin terdesak ke pedalaman. Sementara kebun dan pepohonan rindang yang dulunya boleh dikata tidak tertembus sinar matahari saking rimbunnya, kini berganti menjadi rumah-rumah dan gedung bertingkat.

Gagal menjadikan Condet sebagai cagar budaya, kini datang usulan baru. Pemprov DKI Jakarta diminta menjadikan Condet sebagai cagar sejarah Betawi. Usulan ini terlontar dalam seminar 'Pengembangan Pelestarian Budaya Betawi', 6 Oktober 2001, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Menjadikan Condet sebagai cagar sejarah, menurut budayawan dan politisi Betawi, Ridwan Saidi, punya dasar yang kuat.

Ia mengemukakan temuan arkeologis pada situs Condet mengindidikasi hunian purba, sedikitnya pada periode 3000 tahun SM. Toponim di Condet (Ciondet) seperti Batualam, Batu Ampar, Bale Kambang, Pangeran, Dermaga, mencerminkan kehidupan masyarakat dan kebudayaan masa lampau. Dinas Kebudayaan dan Permusiuman DKI Jakarta, pada penelitian arkeologis pada tahun 1970-an telah menemukan benda-benda prasejarah seperti kapak, beliung, gurdi, dan pahat dari batu.

Benda-benda itu banyak terdapat di tepian sungai Ciliwung, di daerah Condet dan Kalibata Pejaten, Jakarta Selatan. Benda-benda ini diduga berasal kira-kira 1000 - 1500 SM. "Pada masa itu, di Condet dan beberapa tempat di Jakarta sudah ditempati nenek moyang bangsa Indonesia," tulis sejarawan Sugiman MD dalam buku 'Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi.' Berarti di zaman batu baru (neolithic) orang telah hidup dan tinggal di Condet, dengan mempergunakan benda-benda tadi sebagai alat untuk menebang pohon, memotong, dan untuk berbagai keperluan lainnya. Khusus di Pejaten, pada penggalian 1971 didapat pula lampu perunggu, lampu kuil, menandakan di sana telah dikenal orang akan adanya kepercayaan atau agama.

Untuk lebih memperkuat usulannya kepada Pemprov DKI, Ridwan mencontohkan batu ampar yang kini menjadi nama jalan dan kelurahan di Condet. Batu ampar yang di Tangerang disebut batu ceper adalah batu yang biasanya berukuran minimal 4 x 6 meter. Di atas batu ini sesajen diletakkan. Sangat mungkin batu ampar di Condet masih ada di suatu tempat di kebon penduduk. Bale Kambang, nama kelurahan di Condet, merupakan pasanggrahan raja-raja. Dapat dipastikan sisa bangunannya sudah musnah, tetapi lokasinya masih dapat diperkirakan. Sedangkan batu alam, juga nama jalan di Condet, dalam tradisi kekuasaan purba, adalah tempat melantik raja baru.

Di samping merupakan permukiman tertua di Jawa, Condet yang penduduknya sangat taat menjalankan syariat agama, pernah dikenal sangat heroik melawan penjajah. Pada 1916, rakyat Condet di bawah pimpinan Haji Tong Gendut mengangkat senjata melawan tuan tanah Belanda yang menguasai Cibeureum, Kranggan, dan Cimanggis, di Kabupaten Bogor. Tempat tinggal tuan tanah itu di depan Jl Raya Condet sekarang ini, yakni di Kampung Gedong. Rumah tuan tanah ini disebut kongsi, yang kini dipakai untuk Kesatrian Polisi Tanjung Timur. Tong Gendut mengumpulkan para pemuda berjihad fi sabilillah melawan tuan tanah yang selalu memeras penduduk. Tetapi pemberontakan ini dapat digagalkan.Pemberontakan kedua terjadi 1923, tidak menggunakan kekerasan senjata, melainkan dengan melakukan penebangan pohon-pohon besar. Pemberontakan ini berhasil membuat para mandor tuan tanah mundur, karena tidak berani menghadapi massa rakyat.Sejak saat itu, rakyat Condet makin berani melawan Belanda, termasuk menunggak pajak atau blasting. Ini berlangsung hingga 1934, tahunketika rakyat Condet mengadukan kepada pengadilan mengenai pemerasan yang dilakukan tuan tanah. Rakyat meminta bantuan hukum kepada tokoh-tokoh perjuangan: Mr Sartono, Mr Moh Yamin, Mr Syarifuddin, dan lain-lain. Rakyat Condet akhirnya menang perkara. Tetapi keputusan baru datang setelah pemerintah Federal. Di masa federal ini, Belanda mengambil hati rakyat Condet, dengan menghapuskan tuan tanah.

DUKU CONDET

Gambar Duku Condet

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

DUKU CONDET
Family : Meliaceae

Deskripsi
Duku condet merupakan salah satu jenis duku unggul yang berasal dari daerah sekitar Condet, DKI Jakarta. Buah duku kebanggaan warga Jakarta ini berbentuk bulat agak lonjong. Salah satu keistimewaannya adalah kulitnya tipis dengan warna kuning agak ` kecokelatan. Daging buahrlya berwarna putih jernih dan rasanya manis. Persentase daging buahnya berkisar antara 52-64%. Ukuran bijinya relatif kecil. Termasuk jenis duku langka sehingga keberadaannya dilindungi. Sosok tanaman duku berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 40 m. Buahnya terdapat dalam dompolan dompolan. Pada waktu muda buah duku berwarna hijau dan bergetah. Setelah tua berubah menjadi kuning dan sedikit getahnya. Bentuk buahnya bulat atau bulat telur dengan diameter antara 2-4 cm. Daging buahnya tebal, berwarna putih bening, rasanya manis, dan tersusun dalam siungan-siungan. Bijinya kecil, berwarna hijau, rasanya pahit, dan terdapat di dalam daging buah.

Manfaat
Buah duku pada prakteknya selalu dimakan dalam keadaan segar setelah dikupas dengan tangan, tetapi buahnya yang tanpa biji dapat dibotolkan dalam sirop. Kayunya yang berwarna coklat muda keras dan tahan lama, serta digunakan untuk tiang rumah, gagang perabotan, dan sebagainya. Kulit buahnya yang dikeringkan di Filipina dibakar untuk rnengusir nyamuk. Kulit buah itu juga dimanfaatkan sebagai obat anti diare, berkat kandungan oleoresinnya. Bagian tanaman lainnya yang digunakan sebagai obat adalah bijinya yang ditumbuk digunakan oleh penduduk setempat di Malaysia untuk menyembuhkan demam, dan kulit kayunya yang rasanya sepet digunakan untuk mengobati disentri dan malaria; tepung kulit kayu juga digunakan sebagai tapal untuk menyembuhkan bekas gigitan kalajengking.

Syarat Tumbuh
Duku dapat tumbuh dan berbuah baik di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl. Duku dapat tumbuh dan be'rbuah baik pada tipe tanah latosol, podsolik kuning, dan aluvial. Curah hujan 1.500-2.500 mm per tahun. Tanah yang sesuai mempunyai pH antara 6-7. Tanaman lebih senang ditanam di tempat yang terlindung. Oleh karena itu, tanaman ini biasanya ditanam di pekarangan atau tegalan, bersama dengan tanaman tahunan lainnya seperti durian, jengkol, atau petai. Duku toleran terhadap kadar garam tinggi, asalkan tanahnya mengandung banyak bahan organik. Duku juga toleran terhadap tanah masam atau lahan bergambut. Tanaman ini toleran terhadap iklim kering, asalkan kandar air tanahnya kurang dari 150 cm. Tanah yang terlalu sarang, seperti pada tanah pasir, kurang baik untuk tanaman duku. Namun, tanah berpasir yang mengandung banyak bahan organik dapat digunakan untuk tanaman duku, asalkan diberi pengairan yang cukup.

Pedoman Budidaya
Tanaman diperbanyak dengan biji. Biji ini dibersihkan dari daging yang melekat pada biji (arilus), kemudian disemaikan langsung karena biji duku tidak dapat disimpan lama. Biji duku bersifat poliembrioni sebesar l0-50%. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan sambung pucuk. Batang bawah berasal dari semai biji duku berumur setahun lebih. Perbanyakan dengan penyusuan berhasil baik, tetapi dapat dipisahkan dari pohon induknya setelah 4-5 bulan kemudian. Sementara, cara okulasi jarang dilakukan karena kesulitan mengambil mata tempelnya. Cara cangkok juga jarang dilakukan karena pertumbuhan bibitnya lemah meskipun dapat berakar. Bibit dari biji mempunyai masa remaja (juvenil) panjang, antara 8-17 tahun. Umur mulai berbuah untuk bibit vegetatif belum jelas, tetapi di Thailand bibit sambungan mulai berbuah pada umur 5-6 tahun. Cabang entres diambil dari varietas unggul yang daunnya masih muda, tetapi sudah mulai menua, biasanya menjelang musim hujan. Untuk memperoleh hasil sambungan tinggi sebaiknya daun cabang entres dirompes dua minggu sebelum cabang dipotong. Di Filipina, sebagai batang bawah yang kompatibel digunakan semai Dysoxylum altisimum Merr. dan Dysoxlum floribundum Merr. Duku ditanam pada jarak tanam 6-8 m dalam lubang berukuran 6o cm x 6o cm x 50 cm. Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah jadi sebanyak 20 kg/lubang. Bibit ditanam pada umur 1-2 tahun atau setelah mencapai tinggi 75 cm lebih. Pupuk buatan berupa campuran 100 g urea, 50 g P2O5, dan 50 g KCl per tanaman diberikan empat kali dengan selang tiga bulan sekali. Setelah ditanam, bibit harus diberi naungan dengan atap daun kelapa atau jerami kering. Kondisi lahan di sekitar bibit harus dij aga agar tetap lembap.

Pemeliharaan
Pohon muda hendaknya dinaungi dengan baik dan disirami selama beberapa tahun pertama. Pucuk utama langsat yang bertipe tegak harus dipenggal, dan cabang-cabang lateral yang tumbuh diikat supaya tumbuh mendatar, agar perawakannya lebih memencar. Pada pohon yang lebih tua, hanya pucuk pucuk air dan cabang-cabang yang kena penyakit yang perlu dipangkas. Pemberian mulsa yang banyak dianjurkan. Persyaratan kebutuhan haranya barangkali rendah, berkat pertumbuhannya yang lambat dan hasilnya yang rendah, tetapi pemupukan yang ringan di awal musim hujan dan setelah panen mungkin bermanfaat, terutama jika ingin diproduksi hasil yang besar. Pengairan dapat digunakan untuk mempercepat pembungaan satu atau dua bulan, asalkan calon bunga telah muncul selama periode kering sebelumnya. Perbungaan mulai tumbuh 7-10 hari setelah penyiraman. Suatu masa kering yang pendek, yang terjadi ketika buah masih menempel di pohonnya akan menimbulkan bahaya turunnya panen secara serius, disebabkan oleh pecahnya buah jika kekurangan air itu tiba-tiba dipulihkan.

Hama dan Penyakit
Penyakit busuk akar dan antraknosa merupakan 2 macam penyakit yang berbahaya, yang masing-masing menyerang pohon dan buah duku. Belum jelas betul patogen mana yang menyebabkan busuk akar, sebab belum ada bukti bahwa Phytophthora spp. terlibat dalam hal ini. Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides) tampak berupa bintik kecoklatan yang berukuran kecil sampai besar pada rangkaian buah; serangan ini menyebabkan buah berguguran lebih awal, dan juga menyebabkan kerugian pasca-panen. Penggerek kulit kayu, merupakan hama yang umum, terutama pada langsat yang bertipe tegak, yang seringkali menyebabkan jeleknya penampilan ranting-rantingnya yang mati oleh ulat-ulat ngengat 'carpenter' (Cossus sp.) dan ngengat hijau (Prassinoxema sp.). Ulatnya menjadi pupa di dalam lorong. Hama-hama ini aktif sepanjang musim hujan; sebagian kerusakan disebabkan oleh rusaknya kuncup bunga: Petani duku mencolek kulit kayu yang lepas dari cabang yang terserang, membunuh penggerek penggerek yang muncul, dan mengecat dengan insektisida cabang yang telah dibersihkan terlebih dahulu. Penggerek-penggerek lain menyerang batang, ranting, dan buah. Di Malaysia, ulat penggerek buah dapat menyebabkan banyak sekali buah rontok; buah-buah yang terserang itu hendaknya dikumpulkan dan dikubur untuk memotong daur hidup hama ini: Di Indonesia, larva kumbang 'weevil' dijumpai di dalam buah duku. Kutu perisai dan kutu kecil (mites) dapat pula menimbulkan kerusakan yang hebat. Kelelawar, burung, dan tikus suka sekali memakan buah duku; pemberantasannya yang efektif adalah menyinari dengan baterai pada rnalam hari dan membungkus tandan-tandan buah dengan kantung-kantung nilon. Daunnya dirusak oleh binatang pengebor daun, penggulung daun, kumbang, dan kutu.

Panen dan Pasca Panen
Buah duku dipanen dengan jalan dipanjat pohonnya dan dipotongi tandan-tandan buahnya yang matarig dengan pisau atau gunting pangkas. Hendaklah hati-hati agar tidak melukai bagian batang tempat menempelnya gagang tandan, sebab perbungaan berikutnpa akan muncul dari situ juga. Kenyataannya, daripada memanjat pohonnya Iebih baik menggunakan tangga, sebab tindakan demikian akan mengurangi kerusalcan kuncup-kuncup bunga yang masih dorman. Diperlukan empat atau lima kali pemanenan sampai semua buah habis dipetik dari pohon. Hanya pemetikan buah yang matang, yang ditaksir dari perubahan warna, yang akan sangat memperbaiki kualitas buah. Umumnya buah yang berada dalam satu tandan akan matang hampir bersamaan, tetapi jika pematangan tidak bersamaan, akan sangat menqulirkan pemanenan. Buah duku harus dipanen dalam kondisi kering, sebab buah yang basah akan berjamur jika dikemas. Penanganan pasca panen Duku merupakan buah yang sangat mudah rusak, kulit buahnya berubah menjadi coklat dalam 4 atau 5 hari setelah dipanen. Buah dapat dibiarkan di pohonnya selama beberapa hari menunggu sampai tandan-tandan lainnya juga matang, tetapi walau masih berada di pohonnya buah-buah itu tetap akan berubah menjadi coklat, dan dalam waktu yang pendek tidak akan laku dijual di pasar. Penyimpanan dalam kamar pendingin dengan suhu 15° C dan kelembapan nisbi 85-90% dapat memungkinkan buah bertahan sampai 2 minggu, jika buah-buah itu direndam dahulu dalam larutan benomil (4 g/1). Buah duku dipasarkan dalam keranjang-keranjang bambu yang dialasi koran bekas atau daun pisang kering. Seringkali buah-buah itu dipilah-pilah dahulu sebelum dijual.

Sumber
Widyastuti Y.E., Paimin F.B., Mengenal Buah Unggul Indonesia, Penebar Swadaya, Indonesia, 1993 Verheij E.W.M., Coronel R.E., Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2, Buah-buahan Yang Dapat Dimakan, Prosea, Gramedia Pustaka Utama, 1997. Sunarjono H.H., Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah, Penebar Swadaya, Indonesia, 2005

Asal nama Gedong (Kampung & Jalan di Condet)

Betawi Seabad Silam

Rumah Tua Tanjung Timur
18 November 1903

MENURUT Bintang Betawi, kemarin telah meninggal dunia Tjaling Ament, tuan tanah Tanjung Oost (Tanjung Timur) dalam usia 76 tahun. Jenazahnya dibawa dari rumahnya di Gambir untuk dikuburkan di Tanjung Timur. Sejumlah pembesar gubernemen, terutama dari kantor asisten residen Meester Cornelis, datang melayat.
Sejak beberapa waktu yang lalu Ament tidak tinggal lagi di Tanjung Timur, karena kawasan itu tidak aman, sering disatroni perampok. Padahal landhuis (rumah peristirahatan) di Tanjung Timur itu sangat besar dan merupakan bangunan yang terkenal di masa kumpeni. Dari keberadaan landhuis itulah lahir nama kampung atau Jalan Gedong di jalan menuju Condet.
Landhuis Tanjung Timur kini tidak lagi bisa dinikmati, karena terbakar pada tahun 1985. Sisa-sisanya dapat disaksikan di dekat Jalan Gedong, simpangan dari jalan besar menuju Bogor. Atau persis tusuk sate Jalan Condet Raya di Jalan Arteri TB Simatupang. Terletak di sebelah timur Kali Ciliwung, lokasinya tidak jauh dari pabrik Friesche Vlag, enam kilometer sebelah selatan Kramat Jati.
Sejarah landhuis Tanjung Timur tidak bisa dipisahkan dari Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk, anak lelaki dari Gubernur Jendral Jeremias van Riemsdijk yang menjadi gubernur jendral pada tahun 1775-1777.
Tetapi kalau ditelusuri siapa yang membangun landhuis Tanjung Timur, kita akan sampai pada Pieter van de Velde, anak dari Amersfoort, yang tahun 1740-an menjabat klerk. Ia kemudian menjadi anggota Dewan Hindia, direktur dari Sositet Amfiun dan pimpinan rumah sakit. Ketika terjadi pembantaian orang Cina pada tahun 1740, ia mengambil alih tanah di sebelah selatan Meester Cornelis, yang sebelumnya dimiliki oleh Kapiten Cina Ni Hu Kong. Sampai tahun 1750 ia menambah penguasaan tanah di situ, antara lain dengan membeli tanah Bupati Cianjur, Aria Wiratanoe Datar. Tanah itulah yang kemudian dikenal sebagai tanah Tanjung Timur atau Groeneveld.
Di atas tanah itu pada tahun 1756 ia membangun rumah besar (landhuis) dengan model berbeda dari rumah-rumah Belanda di kota tua. Bentuknya adalah vila tertutup. Van de Velde tidak lama menikmati rumah besar itu. Ia meninggal pada tahun 1763. Pewarisnya menjualnya pada tahun 1759 pada Adriaan Jubbels, seorang tuan tanah kaya-raya dari usaha penggilingan tebu di sekitar Betawi. Ketika ia meninggal pada tahun 1763, rumah Groeneveld dibeli oleh Jacobus Johannes Craan, yang kemudian memperbaiki bangunan dan mengganti pintu dengan kayu ukiran.
Craan merupakan pemilik tanah yang kaya-raya dengan sejumlah jabatan yang menguntungkan. Ia tidak saja menjadi direktur dari Sositet Amfiun (perkumpulan candu), komisaris dari tanah-tanah milik kumpeni di daerah hulu (udik) Betawi, dan menjadi anggota Dewan Hindia.
Craan yang mengawini gadis berumur 15 tahun itu sempat lama tinggal di situ. Salah seorang anaknya, Catharina Craan, menikah dengan Helvetius van Riemsdijk.
Ketika ayah mertuanya meninggal, Riemsdijk memperoleh warisan tanah luas itu pada tahun 1781. Perjalanan hidup Riemsdijk muda ini dengan jelas menunjukkan adanya KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme) di lingkungan kumpeni.
Riemsdijk muda dilahirkan pada tahun 1752. Ayahnya, Jeremias van Riemsdijk, merintis dari bawah. Ia pernah menjadi kapten dalam dinas kumpeni. Pada tahun 1735 dalam usia 23 tahun Jeremias hidup tanpa uang di Hindia Timur. Tetapi hanya dalam waktu sepuluh tahun ia menjadi tokoh yang kaya dan berpengaruh di Betawi. Posisi itu membuat keturunan Riemsdijk mudah mendapatkan jabatan di lingkungan kumpeni.
Helvetius Riemsdijk masuk dengan pangkat asisten. Tujuh tahun kemudian ia mencapai jabatan administratur tingkat satu, dan ditempatkan di pulau Onrust, pulau tempat memperbaiki kapal-kapal kumpeni.
Sejak menduduki jabatan penting, mulai tahun 1790-an ia mengoleksi tanah-tanah di berbagai kawasan penting Betawi. Misalnya Tanah Abang, Cibinong, Cimanggis, Papisangan, Ciampea, Cibubulang, Sadeng, dan terutama sekali Tanjung Timur. Pada tahun 1777 jumlah penghasilannya mencapai 453.000 rijksdaalder (1 rds = 2,5 gulden).
Salah seorang anaknya, Daniel van Riemsdijk (1783-1860) tinggal di tanah itu. Ia seorang petani sukses, yang sempat memiliki 6.000 sapi. Maka sejak tahun 1830 Tanjung Timur dikenal sebagai tempat penghasil susu.
Ketika ia meninggal pada tahun 1860, warisannya jatuh pada anak perempuan Dina Cornelia, yang kemudian menikah dengan Tjaling Ament, seorang Belanda berasal dari Fries.
Landhuis Tanjung Timur juga mencatat peristiwa bersejarah, ketika Gubernur Jendral Van Imhoff bertemu dengan Ratu Syarifa Fatimah, yang menjadi penguasa Banten, setelah suaminya sakit. Mereka merundingkan hubungan yang lebih baik antara kumpeni dan Banten. Tetapi perundingan itu tidak mampu mengubah jalannya sejarah. ( Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

Kawasan Cagar Budaya Condet Akan Dievaluasi

Laporan : Egidius Patnistik
Jakarta, KCM
Pemprov DKI Jakarta akan mengevaluasi penetapan Condet, Jakarta
Timur, sebagai kawasan cagar budaya. "Kita akan evaluasi. Nanti saya
panggil semua dinas-dinas terkait untuk melakukan evaluasi atas soal
itu," kata Gubernur Sutiyoso di Balaikota, Senin (3/4).

Warga Condet dan anggota DPRD DKI Jakarta, Martin Makatita, Sabtu
(1/4) lalu, mengusulkan agar penetapan Condet sebagai kawasan cagar
budaya melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Nomor
D.IV-115/E/3/1974 dicabut. Alasannya, kawasan itu telah gagal
sebagai kawasan cagar budaya.

Sementara SK Gubernur DKI yang tetap berlaku itu membelenggu hak
warga atas kepemilikan tanah. Soalnya, warga tidak bisa secara
optimal memanfaatkan tanah milik mereka karena berbenturan dengan
aturan-aturan yang berkaitan dengan penetapan kawasan itu sebagai
kawasan cagar budaya.

Condet menjadi kawasan cagar budaya tahun 1974 pada zaman Gubernur
Ali Sadikin. Daerah cagar budaya itu mencakup lahan seluas 18.228
hektar yang meliputi Kelurahan Batu Ampar, Kelurahan Bale Kambang,
dan Kelurahan Kampung Tengah.
Pada tahun 1986, Pemprov DKI Jakarta melarang mutasi tanah, tanaman,
dan tata guna tanah di Condet.
Penulis: Ima

Warga Condet Terganjal Status Cagar

Batu Ampar, Warta Kota
Warga Condet di Kelurahan Batu Ampar di Kecamatan Kramat Jati meminta status cagar buah dan budaya ditinjau ulang karena dianggap menghalangi pembangunan. Padahal, pertumbuhan penduduk dan permukiman sudah pesat.
"Masalah ini memang dilematis, di satu sisi ada peraturan yang harus ditaati, tapi di sisi lain ada kebutuhan masyarakat yang mendesak. Coba saja, warga yang punya tanah 100 meter persegi, tapi cuma bisa membangun rumah 20 persennya saja, ini jelas nggak bisa," tutur Lurah Batu Ampar, Rosyid Achmad, Selasa (10/6).


"Sebenarnya, kami pernah usul ke DKI kawasan cagar ini ditinjau kembali, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya," tutur Rosyid lagi.
Berdasarkan SK Gubernur No D.IV-1V-115/e/3/1974, kawasan ini ditetapkan sebagai wilayah cagar buah-buahan dan budaya Condet. Wilayah cagar ini mencakup tiga kelurahan di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Yakni Kelurahan Batu Ampar, Bale Kambang, dan Kampung Dukuh.
SK yang dikeluarkan oleh Gubernur Ali Sadikin itu menetapkan pembangunan Condet seluas 18.000 ha harus dibatasi. Misalnya, dengan menetapkan aturan koefisien dasar bangunan (KDB) hanya 20 persen dari luas tanah. Artinya, lahan yang terbangun maksimal hanya 20 persen.
Namun, peraturan itu tidak bisa diterapkan lagi di Condet, khususnya Batu Ampar. Sebab, permukiman berkembang pesat dengan pertumbuhan penduduk tinggi karena santernya arus pendatang. Wilayah Batu Ampar seluas 255,025 hektar yang sekarang dihuni 33.084 jiwa dalam tiga tahun terakhir terjadi pertambahan penduduk 308 jiwa.
SK ini juga membuat warga kesulitan mendapatkan sertifikat izin mendirikan bangunan (IMB). "Warga kami memang kesulitan membuat IMB. Kalau kita punya tanah 500 m2 dan kita hanya membangun seluas 100 m2, barulah warga bisa mendapatkan IMB. Pemilik IMB di kelurahan ini paling cuma 10 persen dari 7.000 bangunan yang ada di Batu Ampar," kata Rosyid.

Meski terbelit aturan yang dikeluarkan sejak tahun 1974, Batu Ampar kini terpilih menjadi wakil Jaktim dalam pemilihan kelurahan terbaik tingkat provinsi. "Kelurahan ini masih mampu menjaga tradisi gotong royong dan bisa mengumpulkan PAD (pendapatan asli daerah) tertinggi dari PBB (pajak bumi dan bangunan)," tutur Walikota Jakarta Timur, Koesnan A Halim.
Realisasi PBB yang berhasil diperoleh Batu mencapai 91,05 persen atau Rp 737 juta. Selain itu, Batu Ampar juga mampu membangun wilayah dengan swadana masyarakat sebesar Rp 7,2 miliar. Swadana masyarakat itu untuk membangun dan perbaikan berbagai fasilitas umum, seperti perbaikan jalan dan pembangunan mushola. (tan)

Jokes: Warisan

Engkon Caim umurnye ude 80 taon, asmanye kumat mulu, badan udeh tinggal tulang doang.

Udeh jalan 2 minggu, Engkong Caim diinpus di rumah sakit. Napasnye udah tinggal senen kemis pake selang oxigen. Anak mantunye nungguin gantian siang malem. Pas malem jum'at Engkong Caim ngedrop lagi, mukenye pucet, badannye dingin,matenye sipit ame napasnye tinggal atu dua. Si Nasir, anaknye semate wayang, ngirain babenye udeh waktunye koit. Ame siNasir, dipanggil deh ustad kampung situ namenye Ustad Bokir.

Begitu liatEngkong caim udeh diem aje, Bokir langsung baca-bacain macem-macem doa. Eh tau-tau Engkong Caim megap-megap ame kejang-kejang, bikin panik orang. Pake bahase isyarat, Engkong Caim tangannye niruin orang nulis."Eh Nasir, Lu liat tuh tangan babe lu, daripade bengong, kasih bolpen kek babe lu, kayaknye babe lu pengen nulis surat wasiat tuh" katenye Bokir.Nasir langsung ngibrit nyari kertas ame bolpen buat babenye, kali aje dapet warisan tanah di Condet pan lumayan.

Pake sisa tenaganye, Engkong Caim nulis dikertas ampe' gemeter, abis gitu kertasnye dikasiin ke Bokir. Ame Bokir, surat wasiatnye langsung dikantongin. "Entar aje bacenye, kagak enak baca surat wasiat sekarang, pan babe lu belon koit" katenye Bokir ngebisikin Nasir. Akhirnye Engkong Caim jadi koit dah. Inna Lillahi.

Orang sekampung pade nangisin, soalnye Engkon Caim biarin galak tapi baek ame tetangge. Pas sukuran tujuh arinye Engkon Caim, Bokir diundang lagi ame Nasir buat ngebacain doa lagi. Abis bacain doa, Bokir baru inget kalo die dititipin surat wasiat ame almarhum Engkong Caim. Untungnye, Bokir make baju taqwa nyang minggu kemaren dipake waktu Engkong Caim koit, pas dirogoh, surat wasiatnye masih ade dikantongnye.

"Sodare-sodare sekalian, ade surat wasiat titipannye Engkon nyang belon sempet ane baca. Kalo kite inget masa idupnye Engkong, kayaknye sih isinye nasehat buat kite semue. Nyok kite baca bareng-bareng suratnye ye" kate Bokir.

Begitu abis ngebuka lipetan surat wasiatnye, tau-tau GUBRAK !!! Bokir ngejeblak jatoh pingsan. Pas dibaca ame Nasir, ternyate isi suratnye cuma begini.

"HEH Bokir !!!! Lu bedirinye sonoan dikit, jangan nginjek selang oxigen gua!!!!!"

Tuesday, July 19, 2005

Arsitektur Rumah Betawi

“MASYARAKAT Betawi tergolong masyarakat rawa. Itu sebabnya mereka mengenal model rumah panggung,” kata Ridwan Saidi, tokoh Betawi yang sedang menyiapkan peluncuran buku riset sejarah garapannya: Babad Tanah Betawi.

Namun, Ketua Tim Pengelola Perkampungan Budaya Betawi (PPBB) Agus Asenie Dipl Ing, praktisi arsitektur berpendapat, masyarakat Betawi sebenarnya tinggal di habitat yang beragam, sejak pesisir hingga pedalaman. Bahkan, sekarang juga tinggal di wilayah urban padat penduduk di tengah Kota Jakarta.

“Sehingga rumah panggung bukan satu-satunya sistem rumah tradisionilnya. Arsitektur rumah Betawi juga mengenal rumah darat. Jadi memang ada variasi pola arsitektur rumah sesuai dengan rentang sebaran komunitas Betawi dari pesisir yang mencari nafkah sebagai nelayan hingga pedalaman yang bercocok tanam padi sawah,” kata Agus, putra Betawi juga, asal Slipi.

Dua tahun terakhir Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI melalui Tim Pengelola Perkampungan Budaya Betawi yang dipimpin Agus Asenie melaksanakan proyek pemugaran sebuah rumah tradisional dan pembuatan rumah baru berarsitektur tradisional Betawi di kampung Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Ini satu bagian kecil saja dari rencana proyek berjangka multi tahun di atas lahan 165 Ha, yang tidak saja bertujuan mengkonservasi arsitektur tradisional Betawi di kawasan itu, tapi juga berusaha membuat daerah tujuan wisata baru di selatan Jakarta. Lokasinya ideal karena adanya Danau Setu Babakan, berudara sejuk (24-26 derajad Celsius), berkontur (naik turun), dan sudah dihuni oleh komunitas Betawi yang masih lumayan mengukuhi adatnya.

Setiap Sabtu dan Minggu, di panggung berarsitektur Betawi yang dibikin oleh Tim PPBB sudah rutin berlangsung atraksi wisata seperti tari ondel-ondel juga upacara adat seperti perkawinan dan khitanan, yang sudah mulai dikunjungi turis manca negara. Tahun lalu jumlah pengunjung sudah mencapai 10.000 orang, dengan salah satu daya tarik utama sebuah situs rumah tradisional Betawi yang dipugar PPBB milik warga setempat bernama Pak Samin Jebul (60).

MENURUT hitungan kasar Ridwan Saidi, saat ini ada tak kurang dari 3.000 rumah berarsitektur tradisional Betawi di kawasan hunian komunitas Betawi, sejak kawasan Pulau Seribu di utara, hingga Cileungsi di selatan, sejak Balaraja (Tangerang) di barat sampai Cikarang (Bekasi) di timur.

Sebegitu jauh, baik Ridwan Saidi maupun Agus Asenie mengutarakan, belum ada sumber sekunder yang berasal dari kalangan akademik tentang arsitektur rumah Betawi. Tidak ada primbon atau pustaka klasik yang berisi kodifikasi arsitektur Betawi, sehingga Ridwan mengaku harus meraba sendiri ciri khas arsitektur rumah Betawi ini ketika meneliti, seraya dibandingkan dengan arsitektur rumah tradisional suku lain. Misalnya, bahwa masyarakat Betawi tidak mengenal fengshui, hukum arah angin sebagaimana masyarakat Tionghoa.

“Betawi pada awalnya adalah masyarakat river basin. Mereka membangun masyarakat
berkelompok sepanjang sungai-sungai di kawasan ini. Ada belasan sungai besar di kawasan ini. Pintu depan rumah menghadap ke arah sungai. Akibatnya, setelah perlahan-lahan rumah Betawi masuk ke pedalaman, arah hadap rumah Betawi tidak teratur seperti rumah di Jawa yang berjajar menghadap jalan. Tetapi, sisa-sisa budaya DAS-nya masih tertinggal, biasanya dalam bentuk adanya sumur gali di depan rumah. Anda ingat Mandra atau Basuki di serial Si Doel kalau mandi di sumur di depan rumah mereka,” katanya.

Sekarang ini, terkena budaya kontemporer yang membataskan jumlah lahan yang kian
menuntut pola arsitektur compact (ringkas), kata Agus, sumur depan rumah sudah kian hilang. Digantikan pompa-pompa listrik yang dipasang di belakang rumah. Pada dasarnya ada tiga zoning di rumah tradisional Betawi, kata Ridwan Saidi. Kurang lebih mengikuti hukum arsitektur modern juga, kawasan publik (ruang tamu), kawasan privat (ruang tengah dan kamar) dan kawasan servis (dapur), tambah Agus. Dalam bahasa Betawi, kawasan publik yang berupa ruang tanpa dinding ini kawasan amben, disusul ruang tengah yang didalamnya ada kamar yakni wilayah pangkeng. Paling belakang adalah dapur atau srondoyan.

Masing-masing kawasan ini bisa merupakan bangunan sendiri, dengan pola atap sendiri. Bisa pula satu rumah utuh dengan sebuah saja pola atap, yang terbagi dalam tiga zona tadi. Variasi ini ditentukan status sosial ekonomi penghuninya. Jika setiap zona punya satu pola atap, masing-masing bisa berupa salah satu dari model atap pelana (segitiga sama sisi), atau limas dengan dua kali “terjunan” air hujan yang sudutnya berbeda. Atau lagi kombinasi dari kedua sistem atap ini.

Pilihan pola atap menurut Ridwan Saidi, tampaknya tidak terlalu menjadi tuntutan dalam arsitektur tradisional Betawi. Tidak seperti di Jawa yang sampai perlu ada selamatan khusus untuk itu. Bagi komunitas Betawi yang penting justru pembangunan pondasi rumah. Itu sebabnya, mereka mengenal selamatan “sedekah rata bumi". Hanya saja, sambung Ridwan, selamatan ini dilakukan sesaat setelah kuda-kuda atap rumah sudah sempurna berdiri.

RIDWAN mencatat ada sebuah sudut penting, bahkan sakral dalam arsitektur Betawi.
Yakni, konstruksi tangga, yang diistilahkan balaksuji. Sayangnya ini agak sulit ditemukan di rumah Betawi bukan panggung. Balaksuji adalah konstruksi tangga di rumah panggung Betawi. Rumah darat kadang-kadang juga punya, jika lantaran “kultur rumah panggung", membuat pemilik rumah sengaja meninggikan lantai rumahnya dari permukaan tanah sekitar. Pada kasus demikian pemilik rumah juga membuat balaksuji, tangga menuju rumah.

Tak ada konfirmasi literer soal ini. Hanya saja Ridwan menjelaskan, inilah (boleh jadi) arti harafiah dari istilah “rumah tangga” yang dikenal selama ini.

“Sebuah keluarga yang utuh tinggal di rumah yang ada tangganya. Makanya, bernama rumah tangga. Tangga balaksuji ini bagian rumah yang sarat nilai filosofi. Bisa disamakan dengan tangga spiritual dalam tradisi Betawi. Mungkin bisa diidentikkan dengan prinsip tangga dalam arsitektur kebudayaan lain, seperti Borobudur, atau suku kuno Inca. Bahwa memasuki rumah lewat tangga adalah proses menuju kesucian. Idealnya jika ada sumur di depan rumah, siapa pun yang hendak masuk rumah harus membasuh kakinya dulu, baru naik tangga, sehingga masuk rumah dalam keadaan bersih. Ini memang bukan soal fungsi, tapi perlambang,” katanya.

Di rumah modern yang dihuni masyarakat Betawi sekarang, banyak hal sudah hilang, termasuk tangga balaksuji ini. Hanya saja, kata Ridwan, di sejumlah kampung balaksuji dipertahankan, atau pindah lokasi. Tangga ini tidak ada di rumah penduduk, tapi ada di masjid kampung. Balaksuji dipasang di tempat khotib berkhotbah. Tangga ini menjadi tangga menuju mimbar. Kesuciannya dipertahankan di rumah ibadah. (ody)

Sumber: Harian Kompas, Minggu, 21 April 2002

Obrolan Orang Condet di milis

dari milis XeniaAvanza@yahoogroups.com orang Condet angkat bicara.
mari kita simak testimonial mereka tentang Condet.

rgds,
warga Balekambang

From: R. M. Irwan <irwan_at_kpei.co.id>
Date: Wed Mar 31 11:11:02 2004

wah banyak juga temen dari condet nih :) klo saya kebetulan gede di sana, maklum rumah ortu di batu ampar III sekarang kalo sabtu/minggu aja ke condet pekare macet mah udah makanan sehari-hari di condet, tinggal nikmatin aja :)

-----Original Message-----
From: Widya Danaryanto [mailto:Widya.Danaryanto@saipem.co.id]
Sent: Wednesday, March 31, 2004 11:02 AM
Subject: RE: [XeniaAvanza] orang condet hayoo ngakuuuu

Maaf buat yg bukan orang condet kalloo menuh-menuhin mailbox.

Condet adalah saat ini sangat strategis tempatnya. Jalan utama yg lurus dari Cililitan ke Rindam. Deket dgn tol ke Pondok Indah dan Bogor. Dekat dgn Tol Cikampek. Dekat dgn tol dalam kota kalo sudah berhasil melewati titik kemacetan.

Kata orang tiada hari tanpa kemacetan di Condet kecuali Magrib dan diatas jam 10 malem.. karena Condet adalah kampung Betawi dgn seribu gang ... yg berebut menembus jalan raya condet yg lebarnya cuman muat dua metromini plus satu motor ditengahnya.

Sebetulnya yg bikin macet bukan warga Condet, tapi warga Ciracas, Pasar Rebo, Cijantung, Tanjung Barat yg nyari jalan alternative dari berbagai arah menuju pusat kota. Mobil dan motor berpelat depok-cimanggis pun buanyak yg lewat.

Tapi jangan takut untuk tinggal di Condet. Ini jauh lebih baik daripada nyari rumah diujung perbatasan Jakarta. Kemacetan adalah hal yg biasa dimana-mana. Kan ada jalan tikus yg bisa dipelajari ...

Mau nyari rumah murah, udara segar, air bagus, nuansa kampong, tempatnya di Condet.
Waktu tempuh tergantung berangkat dari rumah. Kalo masih jam 6.30 dari rumah ane, bisa nyampe jam 7.15 di kuningan Kalo jam 7.00 bisa nyampe jam 8.15 di kuningan Kalo jam 7.30 bisa nyampe jam 9 di kantor kuningan.

Pulangnya ? Tergantung kemacetan Kuningan, Casablanca dan Dewi Sartika. Jam 16.30 bisa nyampe jam 17.30 Jam 17.00 bisa nyampe jam 18.15 Jam 17.30 bisa nyampe jam 18.45 Tapi jam 18.30 bisa nyampe jam 19.15. Aneh kan ?
Pak Wasis dan pak Adjie mau menambahkan ?

Regards, Antoyg hari pertama bersama avanza sudahdisenggolkacaspionnya oleh motordijalancondet

-----Original Message-----
From: Saleh, KMSMuhammad (IDN) [mailto:kms.saleh@idn.xerox.com]
Sent: Wednesday, March 31, 2004 10:30 AM

Kalo gw mo cari rumah di condet, berarti banyak yang bisa bantu informasi donk!
tapi kata adiknya mas anto, si mega, condet sering macet, bener nggak? mas anto, setiap hari, condet-kuningan, dari rumah jam brp? brp lama di jalan?

-----Original Message-----
From: Widya Danaryanto [mailto:Widya.Danaryanto@saipem.co.id]
Sent: 31 Maret 2004 10:36

Kalo gitu kite bise ngumpul en copy darat dong bang Wasis ... Udah ade bang Adjie Pranowo (X-Biege-B 8803 JX) tuh yg ngendon di Jl. Munggang.

Kalo ane mah gubuknya di gang kecil nih. Gg Al magfiroh deket sate tegal bu tri, didepan toko roti larisia yg udah tutup. Berarti bang Wasis adalah yg punya duluan entuh Avanza/Xenia di kampung Condet yak ? Dapetnya duluan kan ?
Salam betawi-emping condet, Anto.B.2838.OK-AvG.blue

-----Original Message-----
From: Wasisto@asc.co.id [mailto:Wasisto@asc.co.id]
Sent: Wednesday, March 31, 2004 10:30 AM

KTP Condet? Idem ditto...Same dong kayak ane punye...Ente Condet-nye sebelah mane Bang? Ane punye KTP alamatnye Jl. Condet Raya 28...deket tegongan yg jalannye nanjak..sebelahnye gg. Dahlie...jerr.

Salam nanjak,

-----Original Message-----
Date: Tue, 30 Mar 2004 15:22:42 +0700
From: "Widya Danaryanto" Widya.Danaryanto@saipem.co.id

Idem sama pak Wasisto. STNK saya yg keluar tgl 11 maret 04.
Regards, Anto-B.2838.OK.AvG.blue.KTPCondetJaktim.

Dodol Betawi Bu Mamas

"Dodol Betawi Bu Mamas", begitu yang tertera di label dodol buatan Masitoh (50), nama asli Bu Mamas. Label itu, menurut Bu Mamas, sungguh telah memberikan berkah
bagi kehidupannya.

Pernah suatu saat cetakan label itu habis sehingga terpaksa dodol dijual tanpa label. Padahal, sang pemesan telanjur memesan banyak. "Pemesannya telepon mau mbalikin dodol yang sudah dipesan gara-gara enggak ada labelnya. Dia khawatir jangan-jangan dodol itu bukan bikinan Bu Mamas," tutur Bu Mamas ketika berbincang dengan Kompas di warungnya di Jalan Batu Ampar I RT 13 RW 04 Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (27/4).

Tidak hanya Bu Mamas yang berjualan dodol Betawi di Condet, namun nama Bu Mamas menurut warga sekitar lebih dikenal ketimbang yang lainnya. Bisa jadi karena label yang ditempel di dodolnya langsung menyebut nama pemiliknya.

Kesuksesan seseorang memang selalu dikaitkan dengan usahanya. Ada orang yang hanya duduk-duduk saja bisa cepat kaya, namun banyak yang harus kerja berpeluh-peluh untuk bisa sukses dan memetik hasil kepayahannya. Sebagai seorang perempuan dan ibu dari enam anak, kerja keras Bu Mamas layak diacungi jempol. Modal pinjaman yang tidak seberapa untuk membuat dodol belasan tahun yang lalu kini telah berbuah. Bu Mamas kini mempunyai tujuh karyawan yang setiap hari membantunya membuat dodol. Bahkan setiap bulan puasa, karyawannya bertambah menjadi 35 orang untuk mengimbangi pesanan dodol yang terus mengalir.

Bu Mamas masih ingat betul ketika pada tahun 1990-an dia masih membantu usaha mertuanya membuat dodol Betawi di Pasar Minggu. Setiap hari dia mengambil dodol dari Pasar Minggu dan dijualnya ke warung-warung sampai ke tanah kelahirannya di Condet. Upahnya sangat minim, sementara penghasilan suaminya tidak bisa diharapkan.
"Saya lalu berterus terang kepada mertua, saya mau bikin usaha sendiri di Condet karena capek mondar-mandir. Saya lalu mendapat pinjaman modal sedikit dan saya gunakan
untuk membuat dodol," kata Bu Mamas.

Bu Mamas pun membeli beras ketan, gula, dan kelapa. Setiap hari pada dini hari dia pergi ke Pasar Kramat Jati untuk menggilingkan beras menjadi tepung, juga memarutkan kelapa. Begitu terus setiap hari hingga bertahun-tahun. Lama-kelamaan, orang mulai menyukai dodol buatan Bu Mamas.
"Pas bulan puasa, saya mulai mendapat pesanan, mulai dari satu kuali, lima kuali, 10 lalu 20, 50, 100, dan saat ini saya sudah mendapat pesanan 500 kuali setiap bulan puasa. Tadinya saya hanya punya satu kuali yang saya pesan dari Cirebon seharga Rp 1,5 juta. Sekarang, saya punya 16 kuali, semuanya terbuat dari tembaga seberat 20 kilo," paparnya.

Satu kuali berisi campuran 10 liter beras ketan, 30-35 geluntung kelapa parut, dan 1,5-2 peti gula merah. Bisa juga dicampur durian atau nangka cempedak untuk menambah
rasa lain. Untuk membuat dodol yang pulen dan enak, dibutuhkan waktu sampai tujuh jam. "Dodol harus dimasak di atas kompor kayu karena dibutuhkan panas tinggi.
Kalau di atas kompor gas, dodol pasti tidak enak," ujar Bu Mamas. Untuk kebutuhan kayu bakar, sudah ada orang yang mengantar ke warungnya setiap hari. Jika bulan
puasa, Bu Mamas membutuhkan tiga puluh pick up kayu bakar. "Makanya, saya sudah nyetok dari sekarang kayunya," ujarnya.

Untuk penjualan sehari-hari, Bu Mamas hanya membuat satu kuali dan dijual ke sejumlah warung serta pelanggan dari berbagai penjuru Jakarta, seperti Bintaro, Slipi,
Cilandak, bahkan sampai Bandung. Pernah pula ada yang membeli banyak dan dibawa ke Saudi Arabia. Harga setengah kilo dodol Rp 8.000 dan Rp 10.000 untuk yang berasa durian. Jika membeli satu kuali, harga Rp 500.000.

Usaha dodol Bu Mamas terus berkembang. Kini dia sudah mempunyai dua mesin giling tepung dan sebuah mesin parut kelapa yang disimpan di pabriknya. "Jadi, saya tidak
perlu lagi menggilingkan beras ke pasar. Ya baru punya dua itu, usaha saya ya belum besar kok," ujarnya merendah.

Hanya dengan usaha dodol, Bu Mamas bisa menyekolahkan enam anaknya hingga lulus SMA. Bukannya tidak mau menyekolahkan anak hingga sarjana, Bu Mamas menyerahkan keputusan kepada anak-anaknya. "Orang Betawi ini, otaknya enggak mampu sekolah tinggi," katanya.

Meski demikian, Bu Mamas ingin anak-anaknya sukses dalam kehidupan. "Saya masih mempunyai keinginan membikinkan anak-anak saya toko satu-satu sehingga mereka bisa
mengembangkan diri," tandasnya. Harapan yang mengharukan dari seorang ibu untuk anak-anaknya. (susi IVVaty)

Makanan Arab-Betawi



... dari Jalansutra-nya Bondan Winarno di Kompas.

[searah jarum jam]
Nasi Tomat, Gule Merah, Sop Kikil Spesial.
[foto: Bondan Winarno]



Pernah kenal jajanan khas Betawi yang bernama Ali Bagente? Bahkan orang-orang etnis Arab-Betawi pun sudah banyak yang tidak lagi mengenal jajanan ini. Sederhana sekali. Cuma kerak (sisa nasi yang mengeras di pantat kuali ketika menanak) yang dikeringkan, kemudian digoreng, dan disiram kinca (gula merah).

Dugaan saya, dulunya si Ali sangat suka jajanan ini dan cinta pada orang yang membuatkan jajanan ini untuknya. Karena itu dia lalu bilang: “Ali bah ente.“ (Ali cinta kamu). Maka, serta-merta orang menyebut jajanan itu dengan nama Ali Bagente. Dasar telinga
Betawi! He he he ....

Di masa lalu, komunitas Arab-Betawi kebanyakan bermukim di daerah Kebon Pala (kawasan Tanahabang) dan Kebon Nanas (kawasan Jatinegara). Khusus etnis Arab yang berasal dari Pekalongan, ketika pindah ke Jakarta mereka kebanyakan bermukim di daerah Condet
Batuampar. Sekarang, karena mulai ’terjepit’ oleh pembangunan, maka banyak warga etnis Arab dari Kebon Pala dan Kebon Nanas yang juga ikut berkumpul di Condet. Menurut seorang warga, hampir 80 persen penduduk Condet sekarang berasal dari keturunan Arab.
Tak heran kalau di Condet sekarang kita banyak menemukan masakan Arab. Di Jalan Otto Iskandardinata (Otista), Jakarta Timur, kini hanya tinggal satu rumah makan masakan Arab, yaitu milik pemain sinetron Haji Nazar Amir.

Belum lama ini saya diajak teman lama – Mas Harun Musawa dan istrinya, Mbak Nunik – makan di kawasan Condet, Jakarta Timur.
Saya diajak ke sebuah rumah bercat hijau tanpa papan nama di Jalan Condet Raya. Memasuki rumah sederhana, tampak beberapa meja rendah untuk makan lesehan (duduk di lantai). Di kartu menu disebut ”Hidangan Khas Jawa Timur”. Tetapi, lho, kok tidak ada rawon?

Tulisan itu memang sangat misleading. Pemilik rumah, Thalib Musawa, sebetulnya malah kelahiran Jawa Tengah. “Tetapi, ibu saya dari Banyuwangi,” katanya berkilah. Dan menu makanan yang tercantum di sana semuanya adalah masakan Arab. Gule kacang ijo, misalnya, tentu sebetulnya adalah dalcha.


Kami memesan nasi tomat, sop kikil spesial, dan gule merah. Nasi tomatnya mengingatkan saya pada Nasi Kandar ”Pelita” di Penang, Malaysia. Nasi khas masakan Mamak (Muslim India). Tomat direbus, lalu dibuang kulitnya. Air rebusan dan tomatnya dipakai untuk menanak nasi yang dibumbui. Karena itu, rasa asam dari tomatnya terasa nendang banget pada sajian ini. Dalam nasi tomat itu juga saya temukan salam koja (sering disebut juga sebagai daun kari) yang memang banyak dipakai sebagai bumbu masakan Arab.

Gule merahnya sangat medok. Sangat bersantan dan berbumbu. Dagingnya empuk. Sop kikilnya berkuah encer, tapi dagingnya empuk – kikil yang masih menempel di kaki kambing. Kalau mau kuah yang kental, harus bilang kaldu kikil ketika memesan.

Pada tiap hari Jumat, Thalib juga menyediakan menu khusus yang disebut harisa – bubur daging kambing dengan oatmeal (havermout, bubur gandum). Harisa disajikan dalam mangkuk, dan dibubuhi sesendok mentega di atasnya. (Hmm, minyak samin tentu lebih afdol, ya, mestinya?). Sesendok pertama yang saya cicipi membuat saya langsung berpikir ke corned beef. Havermout-nya basa-basi banget. Yang lebih banyak justru daging kambing yang sudah dimasak lama hingga sangat empuk dan sudah hancur. Sangat machtig! Berbeda dengan bubur kambing a la Pekalongan (pakai beras dan banyak bawang merah) yang pernah saya cicipi di tempat William Wongso. Kata salah seorang tamu lain, kalau mau makan harisa yang paling enak, harus cari di daerah Kwitang. Well, not my cup of tea!

Di meja juga tersedia roti untuk sarapan atau cemilan yang disebut roti mariam (kadang-kadang disebut juga sebagai roti konde). Sangat mirip roti canai, tetapi dalam versi lebih bantat.
Dimakan dengan taburan gula halus dan kayu manis – menjadikannya sangat mirip danish roll.

Tidak jauh dari rumah makan Thalib Musawa, ada sebuah rumah makan Arab lain yang lebih terkenal. Namanya ”RM Puas”. Jangan salah, ini bukan cabang ”RM Puas” di Pekalongan yang legendaris karena nasi kebulinya yang kondang ke mana-mana. ”Puas” sebenarnya
adalah perusahaan jasaboga (catering) merangkap rumah makan yang sudah punya tiga gerai di Jakarta, yaitu di dekat Mesjid As-Sholihin Condet, di belakang RCTI Kebon Jeruk, dan di Jalan Raya Jatiwaringin.

Ha, mungkin ketika membaca tulisan ini ada di antara Anda yang sambil bertanya-tanya: ke mana gerangan nasi kebuli lezat yang dulu mangkal di Hotel Sriwijaya, Jalan Veteran, Jakarta Pusat? Ya, inilah dia! Shadiq Assegaff, pemiliknya, memang sudah menutup gerai yang di Hotel Sriwijaya dan pindah ke Condet untuk mendekati stakeholders-nya yang banyak bermukim di sana.

Hidangan unggulan ”Puas” adalah roti jala dan roti canai. Keduanya bisa dimakan dengan kari kambing (atau ayam) yang bisa bikin lidah berdansa. Tentu saja “Puas” juga punya nasi kebuli (ayam dan kambing) yang banyak disukai orang. Jangan lewatkan sambosa untuk appetizer dan kue srikaya sebagai pencuci mulut. Martabak “Puas” juga punya penggemar luas.
Selain versi rumah makan dan restoran, ternyata, di Jakarta juga ada masakan Arab yang dikemas dalam versi gaul. Coba singgah ke “Little Baghdad” di daerah Kemang. Kafe yang hanya buka malam ini merupakan salah satu tempat rendezvous favorit para remaja. Kalaupun makanannya tidak hebat-hebat amat, di sini mereka bisa mengisap sheessa – merokok menggunakan pipa air khas Timur Tengah.

Di Jakarta ada beberapa restoran yang menghidangkan masakan Arab. Di daerah Petamburan, misalnya, ada ”Sindbad” yang terkenal dengan nasi briyani dan nasi kebuli-nya. Di Jalan Raden Saleh juga ada beberapa restoran yang menyajikan masakan Timur Tengah. Tetapi, bagi warga etnis Arab, restoran-restoran yang saya sebut tadi lebih ’meng-India’. Masakan India memang lebih kaya bumbu dibanding masakan Arab. Ada juga ”Anatolia” di Kemang yang lebih berciri Turki.

Bagaimana pula dengan nasi goreng kambing? Ah, kalau kita mengenal masakan peranakan yang merupakan campuran seni masak Indonesia-Tionghoa, mungkin nasgorkam ini termasuk gagrak cara masak silang Indonesia-Arab.

Yang dianggap otentik masakan Arab adalah restoran ”Hadramaut” di Jalan Tambak. Hadramaut adalah nama lain dari Yaman (Yemen). Menu ”Hadramaut” sangat sederhana dan straightforward: kambing atau ayam. Kalau siang hanya ada mandhi (kambing atau ayam
yang dimasak dalam oven khusus di dalam tanah). Sedang malam harinya cuma ada madbhi (kambing atau ayam panggang/bakar). Kambing atau ayam disajikan bersama nasi berbumbu gurih (semacam nasi kebuli). Dagingnya sangat empuk. Kalaupun ada sayuran, salad yang dihidangkan (harus dipesan khusus) hanya terdiri atas irisan timun dan bawang bombai.
Yang unik, di ”Hadramaut” kita bisa makan mengikuti tradisi Arab yang khas. Kalau kita makan berempat, misalnya, nasi dan lauknya akan dihidangkan dalam satu talam besar, dan kita berempat makan ramai-ramai secara komunal dari satu talam yang sama.
Jangan lupa memesan kopi yang dahsyat. Nikmat, dah!

Ahlan wa syahlan!

Menjadi Asing di Rumah Sendiri

Masih ingat dengan kawasan Condet? Dulu kawasan yang yang ada di Jakarta Timur ini identik dengan tempat tinggal orang Betawi. Pada 1976 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mencanangkan Condet sebagai cagar budaya Betawi. Sayang, cagar budaya tersebut hanya bertahan sekitar 10 tahun. Selanjutnya Condet hanya tinggal kenangan. Suku Betawi di kawasan yang terdiri atas Kelurahan Bale Kambang, Batu Ampar, dan Kampung Tengah ini menjadi minoritas. Menurut sensus penduduk 2000, jumlah warga Betawi di kawasan Condet hanya 1,5 persen dari total penduduk di kawasan tersebut.

Setelah kawasan cagar budaya Betawi hilang, di mana orang Betawi tinggal sekarang? Menurut peta sebaran etnis Betawi di Jabodetabek, sebagian besar orang Betawi kini tinggal di Kabupaten Bekasi, Kota Depok, Kota Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat.
Dibandingkan dengan suku-suku lainnya, dalam hal jumlah, orang Betawi mendominasi wilayah Kabupaten Bekasi. Hampir 50 persen penduduk Bekasi adalah orang Betawi. Mereka menetap di Kecamatan Tarumajaya, Babelan, Tambelang, Tambun Utara, Sukawangi, Sukakarya, Karang Bahagia, dan Cikarang Barat.

Selain mendominasi Kabupaten Bekasi, orang Betawi juga banyak tinggal di Kota Depok. Hampir 34 persen penduduk Depok sekarang adalah suku Betawi. Sebagian besar dari mereka bertempat tinggal di Kecamatan Sawangan dan Pancoran Mas.

Sensus penduduk (SP) tahun 2000 mengungkapkan bahwa masih ada suku Betawi yang menempati kawasan Jakarta Pusat. Ada sekitar 30 persen warga Betawi di wilayah tersebut. Penduduk Betawi yang ada di Jakarta Pusat kebanyakan ditemukan di Kelurahan Kampung Bali, Kebon Sirih, Kwitang, Kramat, Pegangsaan, Cikini, Kebon Melati, Kebon Kacang, Kenari, Paseban, Petamburan. Perkampungan Betawi di Jakarta Pusat sebagian besar merupakan perkampungan asli Betawi, seperti kawasan Cikini, Tanah Abang, Pejompongan, dan Kebon Sirih-dulu dikenal dengan sebutan Kampung Betawi Tengah.

Jakarta Barat juga merupakan tempat tinggal orang Betawi. Di antara suku-suku lainnya, jumlah warga Betawi di wilayah tersebut cukup banyak. Ada 552.000 jiwa warga Betawi atau sekitar 30 persen dari total penduduk yang menetap di bagian barat Jakarta tersebut. Mereka tersebar di Kelurahan Kamal, Duri Kosambi, Meruya Selatan, Kembangan Selatan, Cengkareng Barat, Sukabumi Utara, Sukabumi Selatan, dan Kota Bambu Selatan.
Di luar itu, sebagian suku Betawi tinggal di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Hampir 80 persen penduduk Kepulauan Seribu adalah suku Betawi.

Warga Betawi tidak hanya ada di Kabupaten Bekasi, Kota Depok, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat. Di wilayah Kota Tangerang sebagian besar warga Betawi tinggal di wilayah timur, yang berbatasan langsung dengan Jakarta, seperti Kecamatan Benda, Kosambi, Pinang, Cipondoh, Teluk Naga, dan Paku Haji. Apabila dibandingkan dengan suku-suku lainnya, jumlahnya termasuk minoritas. Jumlahnya yang menetap di Kota Tangerang hanya sekitar 20 persen dari seluruh penduduk kota itu.

Wilayah tetangganya, Kabupaten Tangerang, juga dihuni oleh orang Betawi. Akan tetapi, hanya di bagian timur yang penduduknya mayoritas adalah orang Betawi. Hal ini seperti terlihat di Kecamatan Serpong, Pondok Aren, dan Malik, yang dihuni oleh sekitar 70 persen orang Betawi.
Berapa jumlah orang Betawi di Jakarta? Sensus penduduk 2000 mencatat ada 2.301.587 jiwa di Jakarta. Selain itu, orang Betawi yang tinggal di Tangerang, Depok, dan Bekasi jumlahnya mencapai 2.339.083 jiwa.

Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Betawi pada tahun 1930 yang mencapai 778.593 jiwa, terlihat peningkatan yang mencolok. Namun, jika dibandingkan dengan total penduduk Jakarta, persentase orang Betawi menunjukkan penurunan. Kalau pada 1930 jumlah mereka 54 persen dari penduduk Jakarta, pada 2000 orang Betawi hanya 30 persen dari seluruh jumlah warga Ibu Kota. Kaum pendatang, aneka suku bangsa, telah membanjiri Jakarta dan orang Betawi tersingkir, didorong arus urbanisasi.

Sesudah cagar budaya Betawi di Condet lenyap, baru pada tahun 2001 Gubernur Sutiyoso melanjutkan perhatian terhadap Betawi yang kian terpinggirkan. Situ Babakan di Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, ditetapkan sebagai perkampungan Betawi. Hampir 70 persen penduduk kelurahan itu merupakan orang Betawi. Namun, apakah dalam sepuluh tahun ke depan orang Betawi masih dominan di Srengseng Sawah? Tidak ada yang tahu. Orang Betawi telah menjadi asing di rumahnya sendiri.
(M Puteri Rosalina/Litbang Kompas)

comment ane:
ane sendiri pendatang halal di condet. membeli rumah di atas tanah yang semula dimiliki orang betawi asli condet yang kemudian pindah ke daerah Pasar Rebo. Ane tidak membeli langsung darinya, tetapi dari tangan ke dua, orang Jawa-Palembang yang pindah ke Tebet.

Monday, March 14, 2005

Lambang Trans Jakarta

Di bagian depan bus tertulis trans-Jakarta dan di kacanya tertera B01 Bus Way. Bus lainnya tertulis B01 Bus Way Blok M-Kota. Di sisi kanan dan kiri terpampang gambar seekor elang bondol serta salak condet, ciri khas Betawi.

dikutip dari webnya pelangi.or.id

Arab Condet

Alwi Shahab, penulis dan pemerhati sejarah yang juga keturunan Arab, mengatakan, pada tahun 1950-an sekitar 95 persen penduduk Pekojan masih keturunan Arab. Mereka berpindah tempat ke Condet, Jatinegara, Tanah Abang, Depok, hingga Bogor. "Arab yang di sini semuanya datang dari Hadramaut, provinsi di Yaman Selatan," kata Alwi.

dinukil dari "Kampung Arab yang Tak Lagi Jadi Kampungnya Orang Arab", Kompas 17 Mei 2004

Al Hawi

Habib Abdulkadir Alhadad, pengurus Al-Hawi di Condet, Jakarta Timur adalah salah satu murid Sayid Muhammad Al-Maliki (Sayid Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Alhasani), ulama kenamaan Makkah.

Kebesaran Al Maliki, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara Afrika, Mesir, dan Asia Tenggara. Ayahnya Sayid Alwi Al Maliki adalah guru dari pendiri NU, KH Hasyim Ashari. Dia juga pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram pada 1930-an dan 40-an. Banyak ulama sepuh dari Nahdlatul Ulama (NU) yang menimba ilmu dari Sayid Alwi Al-Maliki. Sepeninggal Sayid Alwi, kiprahnya dilanjutkan oleh Sayid Muhammad Al-Maliki.

Dinukil dari artikel Alwi Shahab di Republika 12 Nopember 2004

Gagal di Condet, Setu Babakan Diincar

MINGGU (20/2) siang, puluhan anak perempuan berlatih menari di Pusat Perkampungan Betawi Setu Babakan, Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Panggung utama di kawasan konservasi budaya Betawi itu penuh oleh penari-penari cilik.
Di sudut lain, belasan remaja pria tengah berlatih pencak silat. Seorang pelatih memperagakan gaya-gaya tertentu, yang kemudian ditirukan oleh peserta latihan silat itu. Nyaris tak ada celah di pelataran dan panggung Setu Babakan itu karena hampir semua sisi dipenuhi dengan anak-anak yang serius berlatih.
Melingkar di sekeliling pelataran ber-paving block itu terdapat beberapa rumah khas Betawi, yang sengaja dibangun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, untuk konservasi budaya Betawi. Salah satu rumah, yakni yang berada di ujung selatan, adalah rumah Haji Samin Jebul alias Bang Anin, warga asli Betawi di kawasan itu. Dulunya, di teras rumah itu, keluarga Bang Anin berjualan gado-gado jakarta.
Menuruni tangga di depan rumah Bang Anin akan terlihat pemandangan Setu Babakan yang-untuk ukuran Jakarta yang kebanyakan semrawut- terlihat indah. Tepian danau ditumbuhi pepohonan.
Di bawah pepohonan rindang itu ada beberapa warung makan yang namanya juga berciri Betawi. Sebut saja Warung Mpok Penih dan Warung Mpok Rohani. Makanan yang dijual bisa disebut sebagian besar khas Jakarta, seperti soto betawi, juga kerak telor yang didagangkan dengan pikulan, seperti biasa menjamur saat Pekan Raya Jakarta. Meski begitu, di sana-sini juga ada penjual makanan bukan Betawi, seperti bakso dan burger sapi.
Pada Minggu itu, banyak pasangan muda-mudi yang memanfaatkan suasana Setu Babakan untuk berduaan. Selain itu, banyak pula remaja yang datang berkelompok dan menikmati kerak telor bersama-sama. Di seantero danau, sejumlah pengunjung mengelilingi danau dengan becak air.
Keriaan di kawasan situ itu berlanjut dengan pergelaran orkes keroncong beberapa saat menjelang sore. Salah satu tembang yang dilantunkan adalah keroncong Setu Babakan, yang dinyanyikan langsung oleh penciptanya, Yoyo Muchtar.
Yoyo, tak lain adalah aktivis budaya Betawi, yang juga penggagas kawasan konservasi Setu Babakan tersebut. Kini, namanya tercatat sebagai Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi dan Ketua Subbidang Pengembangan Potensi Budaya, Badan Musyawarah Betawi, selain pekerjaannya sehari-hari sebagai Kepala Seksi Pengawasan Usaha Pariwisata.
Menurut warga asli Betawi itu, ide kawasan konservasi di Setu Babakan berawal dari arahan Pemerintah Provinsi DKI pada tahun 1996 agar ada aset wisata Jakarta Selatan yang dapat dimaksimalkan. Ia, yang saat itu sebagai Kepala Seksi Objek dan Daya Tarik Wisata Jakarta Selatan, lalu memutar otak.
"Kemudian ada masukan dari Bappeda bahwa ada satu aset pemerintah yang bisa menjadi daya tarik, yaitu Situ Babakan ini. Kebetulan, saya orang Betawi dan pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi. Sementara saya melihat bahwa kondisi situ ini terbengkalai. Jalannya belum aspal seperti sekarang, jadi masih becek di mana-mana. Suasananya juga sepi," katanya.
CIKAL bakal "kemeriahan" di Setu Babakan dirintis pada 13 September 1997 dengan adanya acara "Sehari di Setu Babakan". Ketika itu diadakan berbagai lomba, seperti lomba menghias getek, lomba kano, lomba buah, dan lomba masak sayur asem.
Cara memakan sayur asem pun diawali dengan hidangan pembuka, seperti trancam dan asinan, untuk membangkitkan selera. Kemudian, ditutup dengan air manis dan buah-buahan. "Jangan lupa, Jakarta juga mempunyai buah-buahan yang khas, semacam belimbing dewi, rambutan rapiah yang terkenal itu, dan nangka," ujar Yoyo menambahkan.
Dari kekayaan buah-buahan asli itu pula, tercipta lagu Papaya Cha Cha karya Adi Karso. Syairnya, "Pepaya, mangga pisang jambu. Dibawa dari Pasar Minggu. Di sana banyak penjualnya. Di kota, banyak pembelinya...."
Acara "Sehari di Setu Babakan" berlangsung relatif sukses. Setelah itu, beberapa penggiat budaya Betawi berusaha melibatkan berbagai instansi terkait untuk mempercantik situ itu. Benar saja. Setelah itu, Dinas Pertanian pun menanam bibit-bibit pohon, sedangkan Dinas Perikanan menebar ratusan benih ikan. Jalannya pun diperbaiki.
Bersamaan dengan itu, ide untuk menghidupkan kawasan Setu Babakan sebagai konservasi budaya Betawi terus bergulir hingga tingkat Pemerintah Provinsi DKI. Persoalannya, sejauh mana konservasi ini akan dipertahankan? Jangan-jangan seperti nasib Condet yang pernah menjadi konservasi budaya Betawi, tetapi kini tinggal cerita. (ADI PRINANTYO)

Sumber: Kompas 23 Februari 2005

LEGENDA PANGERAN CODET

Masa lalu Condet sampai kini masih berselimut kabut. Penemuan kapak batu zaman neolitikum memang membuktikan, daerah subur ini telah lama dihuni orang. Namun, dari mana asal kata "Condet", masih jadi perdebatan. Salah satunya, legenda Pangeran Geger yang tak diketahui asal-usulnya, penguasa Condet di pertengahan abad ke-18. Konon, nama Condet berasal dari nama alias Geger, yakni Pangeran Codet (karena ada bekas luka di dahinya, dalam bahasa Betawi disebut codet).
Beristrikan Polong, si Codet memiliki lima anak. Salah satu anaknya, Maemunah memiliki paras nan rupawan, sehingga menawan hati pangeran asal Ujung-pandang, Astawana, yang tinggal di sebelah timur Condet. Karena Astawana punya kesaktian tinggi, Maemunah meminta mas kawin agak nyeleneh. Dia minta dibikinin dua rumah di dua lokasi berbeda (kini Batuampar dan Balekambang), hanya dalam satu malam. Permintaan itu berhasil dituruti sang pangeran.
Maemunah pula, yang kemudian mewarisi tanah Condet dari ayahnya. Sayang, si cantik ini kemudian diperdaya tuan tanah Belanda, Jan Ament. Keturunan Jan yang tinggal di rumah besar di Kampunggedong, bahkan akhirnya menjadi penguasa turun temurun Condet. Anak-anak Ament rajin membuat aturan "yang enggak-enggak". Rakyat harus membayar sewa tanah setahun sekali, sedangkan anak lelaki wajib nyetor "kompenian", semacam pajak kepala sebesar 25 sen/minggu. Tak heran tahun 1916, rakyat Condet dipimpin Entong Gendut melakukan perlawanan terhadap penguasa semena-mena itu, meski berhasil ditumpas kumpeni.
Baru pascakemerdekaan, keistimewaan tuan tanah diberangus. Condet kembali menjadi milik rakyat!

Sumber: Intisari Online, Juni 2004

Dikepung mal

Itulah "surga" yang dilihat Bang Ali ketika menetapkan Condet sebagai cagar budaya tahun 1976 silam. Kebijakan itu lantas ditindaklanjuti gubernur berikutnya, dengan menelurkan kebijakan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 80% bagi kawasan Condet di pertengahan 1980-an. Berdasarkan KDB, orang Condet yang punya tanah 100 m2 hanya boleh membangun rumah seluas 20 m2. Sisanya, 80 m2 (80%) jatah air. Aturan ini dibikin, katanya lantaran Condet mau dilestarikan sebagai daerah resapan air.
Ironisnya, justru aturan-aturan "hebat" itu yang belakangan hari merampas "surga" Condet. Salak dan duku yang sejak baheula menjadi trade mark Condet, tak lagi tersaji di kios-kios buah. Jumlah petaninya tak lagi signifikan, seiring makin sempitnya lahan. Monyet dan berbagai burung langka pun ikut lenyap. Eksploitasi besar-besaran terhadap binatangbinatang itu, plus berkurangnya pohon tempat mereka bersarang, membuat acara bangun pagi orang Condet tak lagi dimarakkan suara burung.
Tak cukup mengancam maskot buah-buahan dan hewan, Condet sekarang juga makin kehilangan daerah resapan airnya. Kebijakan KDB 80% dianggap sebagai angin lalu. Cobalah berkeliling kelurahan Batuampar, Balekambang, atau Kampungtengah. Nyaris tak ada bangunan yang menaati aturan Pemda. Melihat Condet kini, tak beda melihat kawasan lain di Jakarta. Penuh bangunan beton nan bergaya, mulai model Spanyol hingga Mediterania.
Bagaimana dengan pelestarian budaya Betawi? Ah, lebih parah lagi. Penelitian Dinas Kebudayaan DKI menunjukkan, tahun 1991 Condet cuma menyisakan tujuh rumah tradisional Betawi. Tahun 2004 tentu lebih parah. "Mungkin tinggal 1% dari jumlah rumah di sini," aku Kuswara, sekretaris kantor kelurahan Balekambang. Padahal, Balekambang termasuk wilayah yang memiliki komposisi penduduk paling "konservatif." Dari 19.000-an warga, "hanya" sekitar 30% yang bukan orang Betawi.
Rumah tradisional yang didatangi Intisari, milik H. Mughni di Jln. Pangeran, Balekambang, kondisinya sangat mengenaskan. Ornamen lisplangnya sudah dimakan rayap. Pagar beranda bercampur tembok. "Terpaksa diterali juga, habis kita pernah kecolongan lampu antik," jelas Khalil, suami cucu H. Mughni. Khalil tampak gusar karena janji bantuan renovasi yang didengungkan Pemda belum juga terlaksana. "Tapi kita akan sekuat tenaga mempertahankan rumah ini, dengan atau tanpa bantuan," ujar Khalil.

Sumber: Intisari Online, Juni 2004

Bikin frustrasi

Mengapa "surga" di Condet makin mendekati "neraka", meski Pemda DKI sudah menjejalinya dengan beragam peraturan? "Pemda kurang melakukan sosialisasi. Akibatnya, bahasa 'yang di atas' dengan rakyat kebanyakan penghuni Condet tak pernah seragam," tandas Tinia Budiati. "Tambahan, eksekusinya dijalankan oleh orang-orang yang tidak punya sense of belonging terhadap Jakarta. Mereka bukan orang yang secara sadar ingin memelihara tradisi dan budaya kota yang telah memberi mereka nafkah," imbuh Tinia.
Penulis buku Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta, Ridwan Saidi juga menganggap aturan Pemda DKI banyak merugikan warga Condet. "Mereka enggak bisa memanfaatkan fungsi komer-sial tanahnya sendiri," bilang Ridwan. Bayangkan, orang Condet harus bercocok tanam untuk mempertahankan populasi duku dan salak, tanpa kompensasi. Namun di sekitar Condet berdiri jaringan supra moderen. Pemda membuat kawasan sekitar Condet bernilai ekonomi tinggi, sehingga mendorong ledakan urbanisasi. Dengan kondisi seperti itu, adilkah memaksa orang Condet bertahan dengan segala tradisinya?
Orang Condet juga melihat, Pemda DKI tidak menjalankan fungsi kontrol dengan konsisten. Makin hari kian banyak berdiri rumah-rumah moderen, termasuk "losmen" para tenaga kerja yang akan diberangkatkan ke luar negeri. Bangunan-bangunan baru yang sebagian besar melanggar aturan KDB 80% itu tak pernah digubris Pemda. "Masak saya harus tutup mata terus melihat yang kayak gitu!" sergah H. Sapri, warga Balekambang.
Condet kini memang telah melenceng jauh dari cita-cita Bang Ali. Fungsi cagar budaya, reservasi buah dan hewan khas Jakarta telah gagal total. Sungguh aneh, jika aturan-aturan itu masih juga dipertahankan hingga detik ini. Jika tak berniat membentuk lembaga kontrol yang lebih bergigi, sebaiknya Pemda DKI mengucap selamat tinggal pada cagar budaya dan sejenisnya. Budaya mana yang hendak dicagar, kalau kenyataannya reservasi di Condet tak pernah terjadi?
Belakangan, Pemda justru membuat proyek baru, Perkampungan Budaya Betawi di Situ Babakan, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Lo, Condetnye mo diapain, Bang Yos?

sumber: intisari Online Juni 2004

Menjaga codot

Padahal, dulu banyak orang optimistis Condet bakal menjadi trade mark Jakarta. Berbatasan dengan bekas terminal bus Cililitan dan Pasar Minggu, Condet salah satu kawasan yang 90% penduduknya asli Betawi. Condet tahun 1970-an, versi Condet, Cagar Budaya Betawi karangan Ran Ramelan, terdiri atas kelurahan Kampungtengah, Batuampar, dan Balekambang. Luas selu-ruhnya 632 ha. Balekambang rata-rata dihuni 28 jiwa/ha, Batuampar 35 jiwa/ha, dan Kampungtengah 40 jiwa/ha. Bandingkan dengan tingkat hunian rata-rata di DKI saat itu yang 100 jiwa/ha.
Condet kaya akan kebun berpohon rindang. Udaranya bersih, penuh kicauan burung kakak tua jambul putih, bayan, nuri, dan banyak lagi. Monyet melompat dari pohon ke pohon. Rata-rata orang Condet bertanam buah-buahan, terutama duku dan salak. "Salak Condet bahkan masuk buku teks wajib anak-anak SD zaman Belanda, karangan W. Hoekendijk," bilang Dra. Tinia Budiati, M.A., penulis The Preservation of Betawi Culture and Agriculture in the Condet Area, yang juga direktur Museum Sejarah Jakarta.
Pohon duku di Condet banyak yang sudah berumur puluhan tahun. Saat musim duku tiba, hampir saban malam kaum lelakinya meronda di atas pohon, yang punya dahan liat dan kuat. Mereka berjaga dari codot dan kalong, yang konon hanya takut pada pohon yang "dihinggapi manusia". Condet juga penghasil pisang (terkenal besar dan manis), durian, dan melinjo yang diolah jadi emping. Kabarnya, emping Condet sangat gurih. Kalau di tempat lain, sebelum digecek, melinjo direbus lebih dahulu. Nah, di Condet, melinjo tidak direbus, melainkan dinyanya alias digoreng.
Kekhasan Condet juga terlihat dari bahasa Betawi yang mereka gunakan, adat istiadat yang banyak mengambil nilai-nilai Islam, serta bentuk rumah mereka. Rumah asli Condet berlantai tanah, berdinding kayu. Jendelanya dinamai jendela bujang (bertirai batang bambu). Disebut jendela bujang, karena kerap dimanfaatkan bujang untuk mengintip calon istrinya yang dipingit di balik beranda. Serambi muka terbuka, hanya dibatasi pagar kayu setinggi pinggang serta ornamen khas di lisplang. Di belakang beranda ada pangkeng atau kamar tidur.
Di antara tiga kelurahan tadi, Balekambang yang paling kuat memegang tradisi. Mereka sangat fanatik dengan sekolah agama. Untuk mendapat ilmu yang lebih tinggi, tak jarang para pemudanya bertualang ke Suriah atau Mesir. Mereka lebih fasih memainkan gambus dan qasidah. Lenong dan gambang keromong masih dianggap sebagai punye orang luar. Leluhur Balekambang bahkan beranggapan, daerah mereka "terlarang" buat orang asing. Pendatang yang hendak berniaga, harus siap-siap bangkrut. "Kutukan" yang kini tak lagi terbukti.

Sumber: intisari online